Minggu, 18 November 2012

"Penyidik Muda": Pejuang Muda Pemberantas Korupsi (Andai Aku Menjadi Ketua KPK)


  Korupsi merupakan salah satu penyakit yang masih terus menggerogoti kesehatan bangsa. Tak kalah seperti narkotika, korupsi menjadi candu bagi makhluk.  Awalnya candu ini menggiurkan satu, dua, hingga banyak orang karena godaan kelezatan pemuas dahaga nafsu semata. Semakin banyak dinikmati, korupsi semakin memuaskan, oleh karena itu candu ini selalu dilakukan secara berjamaah. Demi memuaskan hasrat keserakahan, seperti para pecandu, mereka rela mengorbankan masa depan diri, keluarga, bahkan bangsa tuk mendapatkan candu. Tak peduli akan derita yang dikorbankan, para penggila candu terus memburu candu dan buta segala. Mereka memang telah buta dan tuli, sebab nurani baik yang pasti menolak candu ini pasti tak dihiraukan para pecandu pada awalnya. Maka, jangan heran jika logika tentang kehancuran bangsa akibat candu ini didiskusikan dengan mereka, tak akan mempan. Sebab nurani mereka telah tertutup kelam, maka memburu candu hingga triliyunan rupiah lebih logis bagi para pecandu.
  Nurani kelam para pecandu nampak semakin menggila hingga mereka bertransformasi menjadi penjahat yang membahayakan. Bahkan kejahatan pecandu amat rapih, tak terlihat, dan yang paling membahayakan adalah bermutasi menjadi virus menular! Seperti ibu bermata kancing dalam film "Caroline", para pecandu terlihat sebagai orang-orang yang baik karena mereka adalah para pelayan rakyat. Seharusnya.
  Dalam berbagai kisah perfilman superhero, saat kejahatan merajarela, para  penegak hukum disusupi, hingga rakyat semakin menderita, semesta akan melahirkan penyelamat. Mungkin tak berlebihan jika Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) menjadi salah satu tombak harapan rakyat Indonesia dalam memberantas korupsi. Kekuatan super KPK hari ini adalah keberanian, tak mudah putus asa, pantang menyerah, dan tentu rela berkorban demi bangsa. Menjadi anggota KPK merupakan salah satu tantangan anak bangsa tuk melawan kejahatan sistematis yang mengakar ini. Bukan rahasia tak sedikit yang ingin "menjatuhkan" KPK. Tentu kita tak lupa berbagai kasus penyidik KPK belakangan ini dan sederet kasus "unik" para ketua KPK. Dapat dibayangkan bagaimana resiko yang membayangi para pejuang KPK. Tak aneh, bapak ketua KPK hari ini rela mewakafkan nyawanya di jalan Tuhannya dalam mengemban tugasnya.
  Bukan bermaksud mengecilkan nyali tuk mengandaikan diri jika menjadi ketua KPK, awalan tentang resiko tinggi bahkan "meminta" nyawa diharapkan tak menjadi halangan tentang signifikansi tujuan utama para pejuang KPK. Menjadi seorang ketua KPK bukan hanya tentang mendapatkan kehormatan, jabatan, dan terkenal. Ini adalah salah satu perjuangan anak bangsa yang ditopang harapan rakyat di penjuru Indonesia. Menjadi pahlawan, superhero, atau apapun istilahnya sebaiknya tidak menjadi tujuan bagi para pejuang KPK. Sebab para pahlawan tak pernah menyiratkan pemikiran seperti  itu sejak awal berjuang. Seperti tokoh Mulan, niat awal rela berkorban, konsistensi berjuang, pantang menyerah, dan keberanian adalah nilai yang sesungguhnya.
  Andai menjadi ketua KPK, saya tertarik menciptakan para penyidik dari berbagai lapisan masyarakat. Melihat semakin kronisnya penyakit ini, maka gerakan masal patut dicoba. Para relawan masyarakat diundang tuk menjadi pejuang bangsa yang dimulai dari lingkungannya sendiri. Terutama para pejuang kecil  seperti para pelajar sekolah, mulai dari sekolah dasar hingga universitas. Tak hanya memberikan sekedar mata pelajaran tentang korupsi dan pemberantasannya yang mungkin hanya seminggu sekali dalam penerapannya, menjadi "penyidik muda" tentu  menjadi pembelajaran dan praktik yang lebih efektif.  Didukung para guru-guru yang sebenarnya adalah para pencipta pejuang bangsa, sesungguhnya jika pelajar muda ini dididik sejak awal tuk memberantas korupsi, mereka akan memahami mengapa dan bagaimana mereka memberantas penyakit bangsa yang sepertinya masih akan terus membayangi hingga hitungan tahun yang tak  sedikit. Para "pejuang muda" akan memahami dan belajar tentang nilai-nilai para pahlawannya terdahulu yang sesungguhnya sudah sering diajarkan dalam mata pelajaran seperti PPKN pada praktek nyata. Misal bagi para "pejuang muda" tingkat SD, mereka dapat menciptakan gerakan tidak mencontek dalam ujian atau kegiatan lainnya. Tak hanya menciptakan sistem "yang keras" dalam melarang siswa mencontek dalam ujian, jika para pelajar dididik dan memahami bahwa mencontek merupakan perbuatan yang berakibat buruk, para "pejuang muda" juga dapat mempengaruhi teman-teman mereka untuk berlatih tak melakukannya. Begitupun dalam menciptakan para "pejuang muda" pada tingkat universitas. Tentu menjadi wacana baru dan menarik bagi para mahasiswa tuk menjadi "penyidik muda". Tak hanya mengadakan sosialisasi dan seminar tentang pemberantasan korupsi, harus ada gerakan sistematis tuk memberantas korupsi, yang bukan lagi rahasia terdapat banyak "tikus" di gedung-gedung kampus yang menjulang. Maka, dengan membekali para pelajar tuk menjadi "penyidik muda" sejak dini dapat saja menjadi salah satu solusi masalah minimnya kuantitas penyidik KPK.
  Mengapa para penyidik muda akan lebih baik dimulai dari para pelajar? Sebab kualitas para penyidik tak hanya tentang kemampuannya menginvestigasi dan kecerdasan mereka tentang sistem, hukum, keakuratan matematis, dan lainnya. Ada satu hal dasar untuk mencegah penyakit candu yang menular ini, yaitu moral dan etika. Segala peperangan pemberantasan korupsi hari ini akan menjadi sia-sia saat generasi muda selanjutya tetap memiliki moral yang bobrok sehingga akan mudah tergoda candu.   
  Niat dan kemauan yang keras tuk memberantas korupsi, konsistensi tuk terus belajar dan berjuang, dan rela berkorban adalah tombak dan parang para pejuang hari ini tuk menyelamatkan bangsa. Tentu berbagai tantangan akan menanti, kebaikan akan selalu ditantang keburukan, begitulah semesta bekerja

Senin, 08 Oktober 2012

Cinta Palsu

Ah, ternyata saya masih megkhianatiMu. Cinta saya masih palsu. Harusnya Engkau tenggelamkan saya serendah rendahnya. Mendamba bertemu Engkau dan KekasihMu?
Semakin tak tahu diri saja saya ini. Dunia sungguh penjara yang nyata dalam mimpi fana. Nafsu sungguh menyiksa raga. Mungkin saya memang tak patut mendapat bahagiaMu. Jika penderitaan dapat menyetarakan kasihMu pada makhluk, saya amat rela. Jika Engkau meminta saya hancur menjadi pasir pantai, tak ada ragu melakukannya. Saya sungguh tak layak meminta. Namun rindu sungguh menderu, bertemu. Masih bolehkah doa dilantunkan?
Kamu terlalu baik, sungguh. Ribuan pujaku sungguh tak akan cukup untuk bersyukur. Aku milikMu.

Bahagia

Ketidakpastian selalu menimbulkan kecemasan hingga ketakutan. Maka, manusia sering mengabaikan nuraninya karena tak sabar menanti ketidakpastian. Walau konsep waktu tak banyak dipahami, menunggu dapat menjadi konsep yang seru. Dalam menunggu, perdebatan prasangka baik dan buruk selalu berlangsung. Jika, mengikuti nurani, prasangka baik layak menang dalam pertarungan. Berprasangka buruk, skeptis, dan pesimis pasti selalu datang menggoda pagi, nampaknya itu manusiawi, sebab ini bagian hidup manusia. Jika mendamba bahagia, maka anak ruh memang harus dilatih berdisplin ria tentang memilih kebaikan. Fana dunia sungguh sementara, maka memenangkan kebaikan sungguh berbuah manis walau mungkin bukan dunia fana yang menyediakan hadiahnya. Segala alasan, tujuan, tindak, dan nafas hidup dalam mimpi dunia fana ini hanya untuk yang dirindu. JanjiMu tentang pertemuan selalu meneguhkan nurani dan inilah bahagia yang hakiki. Semoga hasrat dan cinta pada ilmuMu selalu menemani dan mengiringi bahagia dalam penjara dunia fana. Melodi manis yang populis masih menjadi candu tuk sambil memujiMu. Setiap godaan meninggi dari rendah bumi harus menyingkir. Lupa adalah virus penyakit yang sering berkeliaran. Harapku selalu Engkau berkenan memberikan cahaya saat virus mendekatiku. Kamu didekatku, jika berkenan, senandung puji dalam hening nurani setia menunggu hadirMu dalam sadarku.

Minggu, 23 September 2012

Siapa Ingin Memulai?


    Sudah lama prasangka ini menghampiri. Sesungguhnya semua memang baik saja atau hanya rasa yang salah menginterpretasikan? Rasa kerap menginterpretasikan hari bangsa adalah kelabu. Namun mengapa masih tak ada cahaya terang? Penghuni di hari kelabu juga masih tenang tampaknya. Bahkan terlalu tenang. Tenang hingga mati. Katanya kita ini apatis, menurut saya bahkan hampir mati. Sebab kita tak merasa dijajah, kita tak merasa dipekerjakan, kita tak merasa dibodohi. Kita malah merasa semua baik saja, mungin saya saja yang berlebihan. Kita merasa baik saja untuk datang ke kampus sekedar mengejar IPK tinggi dan lulus, mengikuti organisasi sekedar dapat label aktivis, mengikuti berbagai kepanitian untuk mengejar sertifikat semata. Itu semua kita bilang baik saja. Lalu kita lulus, dapat ijazah, mengikuti berbagai  festival pencari buruh. Berharap diterima di salah satu perusahaan raksasa multinasional tuk menjadi pekerjanya. Bahasa sopannya, mengabdi pada perusahaan tersebut, bahasa kasarnya menjadi buruh. Dan lucunya kita amat bangga jika menjadi buruh dari perusahaan raksasa multinasional tersebut.
    Katanya ini amat membanggakan. Dapat gaji “besar”, memiliki kantor di gedung-gedung menjulang, pakai dasi dan jas, makan di restoran mahal, memakai telepon seluler dan komputer jinjing terkini, segala teknologi tercanggih, dan sebagainya. Tak lupa mari berpamer ria di situs jejaring sosial, reuni kawan-kawan, dan segala "pergaulan" hari ini. Apakah mungkin mata dan nurani saya yang selalu salah melihat dan merasa Sekedar menghibur diri, saya membayangkan ini adalah film menyedihkan berdurasi panjang di dunia fana.

Mari Bercermin
    Saya juga akan mengikuti alur tersebut. Study and high score oriented, terobsesi masuk perusahaan raksasa multinasional ternama yang kantornya di gedung-gedung mentereng di ibukota sana. Katanya ini paradigma sukses hari ini. Paradigma sukses anak bangsa yang membungkam dan menutup kepekaan dan nurani. Paradigma sukses yang bangga saat gajinya “besar” padahal tak ada apa-apanya dibandingkan pengerukan gila-gilaan pada SDA dan segala yang dimiliki bangsa oleh berbagai perusahaan raksasa multinasional. Lucunya kita bangga diperbudak tuan investor asing dan mempersembahkan kekayaan bagi  mereka dengan timbal balik yang tak sepadan. Entah bagaimana alurnya hingga paradigma ini terbentuk.

Lucu Bukan?
    Yang lebih menyakitkan lagi, saya menyadari semuanya. Nurani selalu menggoda tuk melihat hari bagsa lebih dalam lagi. Dan yang lebih lucu lagi, saya selalu berpikir: Apa daya? Ini sistem sangat besar. Mana mungkin bisa berubah? Ikuti saja. Nurani tak akan menang dari pikir saya yang busuk. Ya, saya adalah generasi bermental instan dan lemah. Nurani yang mati, kepekaan yang tumpul, dan egoisme yang tinggi. Mana sempat saya memikirkan kaum marjinal? Bagi saya, rakyat yang menderita dan kelaparan di pelosok sana hanyalah mitos dan isu media yang berlebihan. Bagi saya yang paling penting adalah saya, saya, dan saya. Tak peduli kamu, dia, dan mereka.
    Saya adalah generasi berpengetahuan dan berwawasan sempit. Apa guna membaca buku dan berdiskusi Halamannya saja tebal dan membuang waktu. Lebih baik  bermain game, mengikuti mode terkini, berbelanja ria, nongkrong di mall, dugem, dan bereksistensi ria di situs situ jejaring sosial. Lebih baik saya fokus mengejar IPK tinggi. Lebih enak berhedon ria. Jadi, bukan zamannya lagi sok idealis memikirkan persoalan bangsa. Berdiskusi dan berdebat tentang masalah bangsa bukanlah syarat menjadi anak “gaul”. Apalagi berdemo meneriakan “hidup mahasiswa”, pasti dicap buruk. Ini dagelan konyol yang menyayat nurani.

Lelucon Aktivis Hari Ini
    Bolehlah saya ikut organisasi dan kepanitiaan kampus agar memiliki segudang sertifikat, menambah keren curriculum vitae, dan tak lupa bereksistensi ria. Lalu saya yang dilabeli aktivis atau semacamnya malah mengikuti paradigma pekerja. Mengikuti organisasi berarti memiliki proker kepengurusan selama satu tahun. Saat seluruh proker dapat dijalani, anda meyakini menjadi aktivis yang berhasil. Ada juga organisasi yang bangga bekerja individual. “Yang penting proker staf atau divisi saya terlaksana, maka saya telah berhasil. Tak usah memikirkan staf lain, divisi lain, apalagi pergerakan mahasiswa. Itu hanya mitos dan lelucon belaka”. Jangan harap kami memahami makna nasionalisme apalagi Pancasila. Membaca koran saja kami malas, apalagi buku buku tebal. Jangan mengajak kami berdiskusi tentang ideologi kanan versus kiri atau apalah itu. itu petunjuk jalan atau apa? Hari ini kami lebih suka "cukup tahu saja" tentang ini itu lewat media instant, kan sambil bergaya. Tak ada yang salah, silakan saja mengikuti zaman. Zaman edan.

Saya Pun Tak Kalah Cacat
    Saat berdiskusi tentang pergerakan mahasiswa, kami malah sibuk menyalahkan si ini dan si itu. Padahal saya yang dilabeli aktivis ini justru seharusnya memiliki tanggung jawab dan beban moral yang lebih besar dalam perubahan bangsa. Namun, bukannya mengubah ke arah yang lebih baik, malah menjerumuskan ke arah kelabu. Saya yang katanya semacam aktivis ini, masih saja malas membaca buku, membuka wawasan, egois, tidak berdisipilin, malas, dan berpikiran sempit. Proker adalah orientasi utama. Mengugurkan kewajiban yang ada, dan bermental lemah.
    Saya selalu teringat diskusi dengan seorang sahabat saya. Kurang lebih kesimpulannya: rasanya kita merasa terlambat menyadarinya, tapi mungkin ini memang prosesnya. Empat tahun ternyata sangat tidak cukup. Dan kita selalu merasa bersalah untuk kontribusi kita yang tak ada seujung kuku demi perubahan bangsa dan pergerakan mahasiswa. Sepertinya singgah di kampus lebih dari empat tahun untuk alasan ini tak memalukan. Tapi? Apakah mungkin? Dilema yang tak mudah dipecahkan.
    Lalu apa yang harus dilakukan? Apakah saya tak usah ambil pusing? Apakah saya menyalahkan orang lain saja? Namun saya yakin perubahan tak akan datang, sebab saya mungkin bisa jadi salah satu penentunya. Mungkin perubahan yang justru menunggu kita, bukan kita yang malah menunggu perubahan. Saya harus segera memulai sebab waktu ternyata tak menunggu. Siapa lagi yang harus memulai? Tak usah tunjak tunjuk. Mari menunjuk diri sendiri. Memulai langkah kecil dan konsisten menjalaninya, mari bersiap bertarung dengan jalur populer kawan. Entah ini rasa tepat atau tidak. Saya hanya selalu mencoba belajar mendengar nurani. Saya yakin ini benar.

Minggu, 08 Juli 2012

Try to be Grace Kelly or Little Freddie?


I could be wholesome
I could be loathsome
I guess I'm a little bit shy
Why don't you like me?
Why don't you like me without making me try?

I try to be like Grace Kelly
But all her looks were too sad
So I try a little Freddie
I've gone identity mad!

I could be brown
I could be blue
I could be violet sky
I could be hurtful
I could be purple
I could be anything you like
Gotta be green
Gotta be mean
Gotta be everything more
Why don't you like me?
Why don't you like me?
Why don't you walk out the door!
(Grace Kelly-MIKA)

Selalu menyenangkan berdendang ria dengan lagu ini saat menyadari sejenak bahwa dunia klasik tak mudah menerima irama yang berbeda dengan jalur populer.

Rabu, 20 Juni 2012

Mimpi Realitas Fana

Saya masih belum memahami konsep waktu tampaknya, terlalu membingungkan. Jika makna adalah yang paling hakiki, mengapa saya tak boleh berproses dalam ribuan detak detik? Ataukah saya yang tak mau mempelajari kegagalan dan trauma berlebihan? Namun mengapa terlalu banyak yang membingungkan? Beragam pertanyaan yang belum terjawab menggoda emosi negatif. Aliran yang membawa sampai persimpangan ini menyediakan banyak jendela dan pintu.

Nampaknya jendela di depan berkaca hitam hingga ide cinta mati masih amat sukar. Ternyata ikhlas itu tantangan jangka panjang. Kalau boleh untuk jangka menengah saya coba ide baru tuk ditanamkan. Fana mata ini akan disadari sebagai mimpi, sebab logika dari mana asal dan tujuan masih belum teringat. Petunjuk yang suci tetap menjadi panutan. Namun, kunci laci memori pertama belum ditemukan. Maka, pilihan ide ini menyediakan jendela yang menarik. Tafsir tafsir petunjuk suci pun meminta ketekunan dan konsistensi. Realitas merupakan mimpi dalam mimpi fana indra yang terbatas ini. Realitas adalah bertemu yang amat dirindu, sang arsitek sejati. Inilah tujuan yang diyakini diri atas petunjuk suci dan terpelihara.

Saraf cemas yang bercabang panjang selalu meminta hantaran keyakinan yang kokoh. Maka, kini logika harus bertanding dengan konsistensi. Saraf kecemasan hanya berusaha mendukung ide cinta mati buta itu tak layak. Sebab mereka selalu ditegur insting keseimbangan. Ini ide yang mendukung penuh perkembangan saraf bahagia, mereka membutukan impuls positif yang kuat. Sebab operasi pencangkokan tiruan sel bahagia belum ditemukan dunia medis. Maka, penanaman ide ini adalah pencangkokan yang mandiri. Semoga ini adalah cahaya sinar surya yang mengintip dari realitas sang arsitek, bukan hanya cahaya lampu Thomas Alfa Edison yang sewaktu waktu redup.    

Minggu, 10 Juni 2012

Kupu-Kupu dan Katak Malam


Tiba tiba insomnia menjadi kawan menyenangkan sebab sepanjang malam nostalgia kecil menghidupkan kupu-kupu dan katak dalam perut dan otak. Daun-daun kering dari pohon beringin, tangga warna warni, sepeda hitam bapak, seragam putih hijau dan biru, panas menyengat, bola-bola empuk warna warni tuk dilempar ke dalam keranjang tinggi, bangku meja kecil, lilin lengket yang harum, latihan menari,  pulang bersama Kiki dan Bunga mengikuti aliran air, guru-guru menyanyi, wangi hujan dari kelas dan mushola, tanaman hijau depan ruang kepala sekolah, tahanan panjang dalam main benteng, loncat-loncat main karet, dagdigdug lomba puisi pramuka, bulan bintang pada malam kemah pramuka, guru guru yang amat ikhlas menuangkan segala ilmunya, latihan upacara di teriknya siang, tanpa ragu menjadi dirigen lagu nasional di depan seluruh peserta upacara, memimpin doa dan memberi salam setiap awal dan akhir pelajaran, senam di lapangan batu bata, naik sepeda kelas 6 SD, makan ketoprak langganan ramai ramai, belajar sepeda bersama Nana, main air hujan di lapangan bersama Aiq, main seharian di rumah Ulva atau Ndis, mengantarkan es teh mama di warung Ucok, selalu semangat naik sepeda orange pakai kerudung, menuntut Mas Galih menghapus corat coret lambang Slank di buku Tarikh Islam, menghapal bahasa arab, duet ngaji dengan Mba Eka, bergandeng tangan sambil menghirup wangi Mba Eka, mengejar belalang, mencoba permainan yang diajarkan Bobo, membaca Conan diam-diam sambil ngemil kudapan coklat, wudhu dan solat dekat ustad yang wajahnya selalu bersinar, solat subuh dan mendengarkan lantunan azan subuh bersama mama di mesjid.

Terlalu banyak memori usang terputar. Tayangan masa lampau menghidupkan lagi banyak katak dan kupu-kupu dalam otak dan perut. Saking banyaknya, beberapa helai tisu turut terharu.

Hari ini pola detik waktu tak dapat dianalisis, maka malam dan dini hari selalu menawarkan variasi paradigma. Ternyata beberapa waktu saya lupa untuk hidup. Saya lupa makna kematian. Saya lupa jatuh cinta dan tergila gila dengan ilmu. Saya lupa senyum guru-guru.Saya lupa cara bersyukur setiap detiknya.

Hampir saya tak mengenali rupa Tuan Wonka. Dengan topi tinggi dan cerianya, suaranya lembut mengajak bermain. Padahal saya yang sengaja mengajak Tuan terlelap. Namun melodi ajaib membangunkan Tuan. Mungkin sudah lama Tuan termangu memandang ruang kelabu. Dan Tuan merayu sambil bermain piano nada gembira dengan lirik skeptis yang tak mungkin terlupakan.

Pada hari menuju dunia penuh rasionalitas, saya tak dapat bersenda gurau dengan Tuan leluasa. Beberapa waktu kita hanya memandang dan menyontek senyum manis Tuan. Mungkin waktu luang paling bebas adalah saat kita berdendang melodi riang.

Life in Technicolor, Paradise, Clocks, Yellow, Every Teardrop is A Waterfall, Viva La Vida, dan suara nyaring MIKA terdengar romantis dan gembira. Menambah dosis glukosa kepada para katak dan kupu-kupu.

Rabu, 06 Juni 2012

By The Time


Don't wake up, won't wake up, can't wake up,
No, don't wake me up
Don't wake up, won't wake up, can't wake up,
No, don't wake me up

It's the early morn
Lights flick on
Sleepy eyes peek through the blinds at something wrong
Motionless remains the mess
Shame, such a beautiful, beautiful young life

By the time I'm dreaming
And you've crept out on me sleeping
I'm busy in the blissful unaware
By the time I'm dreaming
And you've crept out on me sleeping
Tell me how am I supposed to care

A trail of clothes two years old
Why did you have to go and leave all this stuff behind
Wasn't I allowed three strikes and out
No, but you said I could, said I could just one night

Don't wake up, won't wake up, can't wake up,
No, don't wake me up
Don't wake up, won't wake up, can't wake up

MIKA

One Foot Boy

What's a matter with going places?Take that gross look off your facesEmpty loving makes me seasickWhat you're here for, I don't need it
I'll say nothing on your microphoneTill you swear to take me homeThere's a one foot boy, eleven stoneHe's sitting on my shoulder
I'm too scared to look awayHe comes here almost everydayAnd everyday I push him offAnd tell him, boy, we're over
My, oh my, I think my mind is goneI'm left here wondering was I crazy all along?What do I do? Nothing left but prayGonna shoot somebodyHelp me drive this craziness awayI'm happy on my own
One foot boy, one foot boy(I'm happy on my own)One foot boy, one foot boy(I'm happy on my own)
Say you like me not with changesShut up and forget it these are my facesAll these colors that surround meAll these places only drown me
MIKA

Kamis, 31 Mei 2012

Surat Pamit

Selamat malam Tuan Wonka, saya harus segera terlelap menuju yang mereka bilang tidur, misteri aktivitas tubuh yang masih dipelajari para intelektual. Para pilihan sudah tak sabar menunggu di ujung mimpi. Mimpi malam ini menjadi perpisahan yang akan dirindu.
Tur bervakansi di dunia Tuan Wonka amat menghibur, berkumpul bersama reuni. Berdendang tak henti di laju terasyik. Daftar puluhan irama lembut hingga menghentak diputar setiap detik. Imaji kita nyata dan bahagia bermimpi tak pernah berhenti. Misteri dunia warna warni menyajikan kembang gula termanis. Senyam senyum, sedih merintih, malu mau, ketus kesal, marah kasar, takut menghantu, riang gembira, hingga
hampa hambar menyapa rasa di tiap sudut jalan.
Sugar satellite is the sweetest name that you made for me. Your sugar satellite will always miss to around you world and peeping tom for the mother station. Mr. Wonka always be my King satellite castle, I promise. I am your drama queen because there's a honey pie in my eyes. I hope you stop the intolerably blue because
the sun will come although the hope left us.
We are black and blue, see it black and white. You are never wrong and I always right. We argue the point, the point is to disagree.You are not my clown, i hate that creature you know. But this is not my sympathy, you are so intoxicated.
Comment te dire. Pourquoi tu gaches ta vie, you said. I will learn before I die, will learn to love and learn to try. In color worlds you are sitting across from me, watching everything I do. When I wake up, I will see you too.
Dunia bangun tidur masih menyembah keseragaman. Kacamata eksentrik menjadi cinderamata paling ajaib. Lensa mika akan memantra mata dan menghantarkan listrik berdaya lebih dalam saraf neuron. Sebab aliran pop tak harus populer dan diperbudak mayoritas. Setelah tambahan beberapa topeng selesai diukir, saya akan menyimpannya di lemari agar rapi. Dunia bangun tidur bukan mimpi buruk, hanya sandiwara berepisode ratusan di atas panggung megah nan reyot. Lampu panggung yang terlalu terik berpose menandingi matahari, namun sinarnya malah menghakimi bumi.
Sudah malam Tuan Wonka, waktu memandang tajam pada kita. Jika Tuan penasaran untuk bangun tidur, semoga surat itu mampir ke depan pintu kamar. Doakan jiwa warna warni tak pudar oleh kabut massa. 

Kamis, 24 Mei 2012

Fragmen Sementara


Tak ada yang dapat dipercaya. Tak ada bahasa yang mampu mengungkap makna. Ini hari yang tak mudah diduga, pesimis masa dirudung duka. Lagi lagi bahasan hidup dunia merayu saya. Gombalan dalam kata kalimat-paragraf-esai-semacam tulisan-dan lainnya merayap kepala. Hingga mana yang harus dirupa? Bahkan Tuhan dunia ternyata hanya sampah filsafat. Kita selalu tergoda menapak Gunung Sina. Karena tak bertemu dengan-Nya, berhala jadi pemuas.

Fragmen ini bersifat tak permanen. Sebab detik hari menimbulkan pengetahuan baru bahkan dapat melenyapkan prinsip usang. Ke mana saya menuju? Mencoba saja ikuti perkataan-Nya yang nyata di lembar wahyu yang terang.

Bukan Menyerah


Bukan fanitisme menggila, saya hanya membutuhkan pegangan.

Kebenaran dunia tak mudah ditemukan. Hampir fana segalanya. Tak ada kata, kalimat, paragraf, menjelma bahasa, dan segala pendapat-argumentasi yang rumit mampu membuktikan hakiki. Ini nyata, makhluk selalu takut akan ketidakpastian. Maka bisnis asuransi, serupa Tuhan saja, akan laris manis sebab makhluk mendamba pasti, dan bisnis ini ibarat jelmaan Tuhan yang dirupa agar tak lagi abstrak, keluh makhluk. Padahal hidup selalu tak pasti. Dan yang paling pasti adalah ketidakpastian itu sendiri. Tak ada yang asli hari ini. Mungkin ada tapi seperti jarum yang menjelma jerami. Entah dari mana ternyata kepala kami adalah imitasi. Segala argumen, penelitian, pendapat, analisa, nilai, norma, etika tak menjamin pasti.

Mengapa menjadi serumit ini? Jangan-jangan isi kepala bermutasi sebab virus argumen tak berujung. Ini kecerdasan otak yang katanya sesungguhnya amat luar biasa? Atau sekedar keangkuhan manusia karena pemberian akal? Lalu mengapa ada sifat menentang, kritis, dan tak patuh? Selalu tergoda hasrat hingga kami menghalalkan banyak yang haram? Bahkan hitam dan putih kini kabur dari penglihatan. Abu-abu semuanya....
Kapan ketenangan akan menyambut nurani?
Katanya, entah siapa, pintu tujuan belum terbuka. Ingin segera, walau konsep waktu tak pernah saya pahami.

Pegangan yang kataNya terang itu tak mudah dipahami, tapi tak disangkal ada sepercik ketenangan yang mengalir. Ini bukan menyerah kan? Pertanyaan akan terus mengetuk. Bahkan logika mungkin mengejek dan merasa iba. Tapi keyakinan itu tak dapat dinalar. Ikhlas saja, ternyata tak mudah. Terbiasa adalah pilihan.

Sabtu, 19 Mei 2012

Ilusi Realitas

Ini bukan lengah tapi sengaja diam
Mencoba mengalir itu seperti apa
Tak berlogika dan rasa, hanya mengalir
Sebab jendela di samping pintu baru terbuka kemarin sore
Dan pertunjukan yang dihadirkan dunia cukup mencengangkan
Hingga saya terdiam mepet kecewa
Maka imajinasi menggoda bermain
Nada nakal, irama hentak, warna warni terang yang ternyata tak membawa cahaya
Gembira hanya sesaat tak pernah kekal
Kembali terdiam, tersadar pilihan
Hanya itu, memilih!
Inilah hari ini, walau ini realitas asing bahkan lebih parah dari dunia imajinasi
Semaikn hari tak ada bahasa yang memberikan hakikat
Mungkin karena terlalu banyak makhluk imajinasi terlepas dari penjara khayalan
Hingga saya hampir tak dapat menemukan layar pemisah realitas dan imaji
Jangan-jangan ini bukan hidup?
Atau realitas sudah mati dibunuh imajinasi?
Hanya prasangka hidup?
Ini realitas yang lahir dari ilusi imajinasi?
Atau antara mimpi dan terjaga?
Tak ada yang dapat dipahami,tapi pilihan terus mengetuk pintu
Mengapa memilih? Jalan depan akan saya bangun dari serpihan ilusi mimpi dan keyakinan
Terimakasih pada melodi mistis dan fana yang mengiringi energi yang sedikit tersisa

Selasa, 15 Mei 2012

Kembali Lagi


Rasa menyeret tertatih tatih
Sesal, lelah, biru, dan kelabu menuju hitam duka
Ratusan tanya tak pernah menemukan jodoh jawaban
Hingga tak ada tujuan hari esok yang patut diikuti
Segala sandaran di dunia adalah fana
Berbagai pendapat tak terbukti 


Inilah fana semu yang telah digoreskan jelas di atas petunjukNya
Nyatanya makhluk lemah ini terlalu angkuh
Seperti pintu tertutup, segala yang benar ditentang dengan linglung
Tak ada kesenangan yang melegakan
Dan kenikmatan dunia tak memberikan kesejukan
Apa yang harus dicari?
Padahal Dia ada di sebelahmu
Ke mana kaki harus melangkah?
Padahal Dia menuliskannya di lembaran suci


Kemarin pemain film fana memilih skenario episode yang bertentangan dengan Sang Sutradara
Maka, episode demi episode film terasa hambar
Ada warna warni dan lezat menggoda
Pemain tak menghiraukan skenario awal,
Maka layar kelabu terus mewarnai
Warna warni dan lezat menggoda hanya visual fana belaka yang menghembuskan angin kering nurani
Berlari pada segala sandaran dunia tak juga menghapus layar kelabu
Sebab angkuhnya, pemain melupakan Sang Sutradara


Pantas saja segala buku tak menjawab ratusan pertanyaan
Sebab Dia adalah pemilik segala jawaban hakiki


Makhluk pengingkar janji ini tak ingin beromongkosong
Dan ini bukan pakta perjanjian sebagai bukti
Hanya merangkai pemahaman sementara


Jika Sang Hakiki berkenan,
makhluk serba tak mampu ini hanya mencoba melangkah setapak tuk kembali,
bahkan lambat langkahnya dikalahkan kura-kura
Awal usaha ini semoga tak rubuh
Sebab ternyata, Kamu adalah alasan film fana dunia
Walau hanya mengingat dan mengharapkanMu sedetik mampu menghidupkan detak nurani

Kamis, 26 April 2012

Dinamika Semu

negatif sering menghampiri hari
pagi, siang, sore, makan, membaca, mandi, nonton TV, tidur, malam, pagi lagi
tak ada lagi gairah warna warni hari
kosong mengisi detik

Tuan hampa terlalu sering bertamu pada ruang relung
mungkin masa depan praktis minim esensi menjadi frustasi nurani
hingga enggan menjadi jadi
hari lampau terlanjur menawarkan makna esensi yang mumpuni
hingga jika sekedar eksistensi terasa basi bagi nurani
hari ini semakin basi sebab praktis tanpa esensi terus dibagi

arus hari semakin lekas
lika liku memacu keras
kompetisi selalu panas
hingga keringat mengucur deras

ya, ya, bumi tak akan berhenti berotasi dan pasti terus mengitari matahari
sudah hukum alam sehari-hari
entah menjauh dari inti atau malah mengkerut kata teori
tetap saja kita harus berlari

ini semu
kecepatan yang lesu
dinamika yang palsu
tak ada lagi yang memacu

ini bukan pesimis, sekedar merasa basi
materi bukan lagi makhluk cantik
maka apa yang harus dicintai?
gairah muda tak lagi mengalir
aliran mana yang harus dicari?
makna mana yang harus diikuti?
semoga tak lama, harus segera menggapai makna
maka pencarian hasrat dimulai kembali

Kamis, 19 April 2012

Sementara Waktu

sementara waktu ini segala rasa kembali memasuki arus detik hari
tak ada ingin, tak ada ambisi, mega kuasa, dan kebanggaan lainnya
belai lembut rasa terlalu nikmat diterima nurani
ini pun bukan membuka peka rasa, malah berbagai fakta tak mampu menggoda
terperosok di dunia sendu, kata-kata biru menjadi rindu, mabuk akan mata biru
terjebak di ruang film pendek, andai saja satu detik boleh dibekukan
agar dapat terus memandang biru tenang, yang membuat ruang mejadi lengang

dunia tak akan menunggu, film pendek hanyalah ruang tunggu
dan ternyata itu hanya sementara waktu

andai saja tuan waktu berkenan menggulirkan detik tuk bertemu mata biru

Minggu, 15 April 2012

Film Pendek

Mengapa mata Tuan begitu dalam?
Hingga saya terperangkap pada biru yang yang mengharu dalam semu
Jabat tangan hari lalu ternyata penuh haru


Cerita hari lampau yang Tuan tuturkan hari itu menjadi salah satu inspirasi pada masa depan yang terstruktur namun pasti tak terduga
Rasa terimakasih yang Tuan ajarkan pada pemberi hidup menjadi teguran manis bagi bakat negatif saya
Segala yang Tuan tampilkan selama di ruang itu seperti vitamin untuk mendukung rapuh ragu yang selama ini menemani
Kerja keras, optimis di antara berbagai pesimis, konsistensi akan keyakinan pada kekasih kekal, dan berusaha memilih hati yang baik pada tiap detiknya
Itu bukan sekedar pertunjukan Tuan, sebab sepertinya Tuan tak bersandiwara walaupun kita pandai bermain topeng
Pertunjukan seperti itu adalah saya yang dahulu jua, tapi hari-hari lalu mengguncang segala, hingga ragu setia pada hari hari, kelabu rasanya
Maka, waktu dan ruang itu sperti skenario persimpangan jalan yang disutradarai Sang Bijak dengan apik
Di film berduarsi pendek tersebut, saya bertemu manusia-manusia hebat, yang tetap teguh pada jalan yang serupa akan saya lewati
Terimaksih tak terhingga pada aktor-aktor hidup yang memberikan segudang pengetahuan dan cahaya kecil bagi jalan depan yang beratmosfer kelabu


Hey Tuan, anda berjanji tak mengeluh kan? Kebaikan yang menjadi prinsip anda pasti berbuah manis di ujung jalan
Semoga pada suatu waktu kita berjumpa tuk mengenang ruang dan waktu yang pernah menuangkan secangkir kebahagiaan 
Semoga pada suatu hari yang tak terduga kita bersua kembali, tuk berbincang tentang kebaikan yang terselip di antara hidup yang kelabu,
tuk mencari pilihan realistis di antara mimpi, dan mengisi kekosongan relung hati

Biru Tenang

tinggi dan hebat selalu membuat terpana
ambisi dan materi menjadi godaan tuk mengundang kekaguman
saya pikir bahagia adalah menaiki tangga dan melaju pesat menuju mega angkasa
tak disangka kesederhanaan Tuan mengusik relung
kebaikan hati yang menawarkan esensi mengetuk pintu hati
etiket yang tak sekedar basa basi mengusik kaku kikuk
nurani meminta kejujuran, logika mencoba kompromi,
apakah ini berarti? sebaiknya justifikasi harus berhati hati
perdebatan rasa tak akan saya mulai
mengalir saja mungkin lebih tepat


sebab arti belum dipahami
maka diri hanya menikmati
menghayati rendah diri memaknai konsistensi dari bayang
biru tenang dilemparkan bayang


kau membelakangiku, kunikmati bayangmu,
itulah saja cara yang bisa,
untukku menghayatimu,
sesaat dunia jadi tiada, 
hanya diriku yang mengamatimu dan dirimu yang jauh di sana,
ku takkan bisa lindungi hati,
jangan pernah kau tatapkan wajahmu, 
bantulah aku semampumu
(Hanya Isyarat-Dewi Lestari)

Sabtu, 24 Maret 2012

Jalan Pilihan

Mengapa masa depan paradigma kebanyakan tak lagi membuat saya bergairah? Harus ada pola jalan baru yang dirancang asal bukan sekedar alasan. Memang tak banyak pilihannya, maka rangkaian jalan sebaiknya dirancang sesuai keyakinan. Mungkin impian perjuangan bukan hanya berupa menentang. Mengikuti arus besar dapat dicoba dengan berbekal nurani kekal tentang keyakinan perjuangan. Cita-cita perjuangan yang merupakan pijakan berjalan di masa depan memang tak akan mudah. Pastinya terlihat mengada ada dan lemah tapi tak apa. Jadikan segala jalan paradigma kebanyakan sebagai cara menuju cita cita keyakinan.
Keputusan tentang pilihan kerap melibatkan perdebatan logika dan rasa.Semoga keyakinan perjuangan merupakan makna jalan masa depan sebab rasa tak mudah berdamai dengan logika.

Menghamba Udara

Bebas katanya. Ini era kebebasan diumbar hingga bubar. Semua mulut bisa bicara juga teriak. Segala mata dapat melihat ataupun plagiat. Setiap tangan bisa meraba dan menghantam. Kaki kita keluar ke mana. Demokrasi adalah slogan lama yang jadi sekedar kata. Kata kata tak disangka menjadi senjata. Siapa tak muak dengan bual para penjahat kata? Umbar sembarang kata maka kami tak percaya. Karena tak pernah puas, kami berteriak. Teriak hingga meledak. Di jalan, di kertas, di ruang, di layar, di mana mana hingga tersedak kata.


Bebas era ini tak bermakna. Kami tetap dijerat di penjara. Bukan ruang terali besi, melainkan negeri merdeka yang mendekati neraka. Bebas kami tak merdeka sebab hanya semu belaka. Anda, tuan kata, hanya sekedar menjual kata. Janji diobral serasi namun ternyata basi.


Hari ini seperti mati. Materi adalah Tuhan kami. Segala sensasi birahi jadi produk manis. Kami tetap miskin hingga mati. Di mana merdeka? Kami tetap terpasung mafia, dihadang raja materi. Mereka bilang kaya itu harta. sebab Tuhan adalah benda, yang disembah oleh hamba. Uang tak lagi benda yang ada, namun  menjelma menjadi udara yang abstrak. Mengisi relung badan hingga jiwa. Kami tak dapat hidup tanpa udara. Maka udara dicipta hingga sesak ruang hampa. Dan kami menghamba pada udara. Segala nikmat adalah menghirup udara. 


Masa ini mayoritas berkata bahagia adalah menenggak udara. Manusia bermartabat merupakan raja udara. Surga dunia tercipta jika berlimpah uang. Udara menjejali tenggorokan hingga tersedak. Udara uang kerap menggoda. Tak lama udara berubah petaka yang mengundang marabahaya. Rangkaian sistemnya terlihat megah dan mewah. Dunia terpana dan menghamba pada segala udara. Maka apa makna bernyawa jika udara adalah segala? Mayoritas hanya akan tertawa lantas menduga semua kata ini hanyalah sampah dan terkaan yang mengada ada.

Kamis, 12 Januari 2012

Rindu

ternyata saya sama sekali tak mengenal saya
entah mengapa diskusi antar saya dimulai kembali
mungkin karena tak ada lagi yang dapat berbincang
tentang ada dan tidak adanya hidup
tentang nafas, resah, sebab, akibat, rasa, cahaya, hitam, kosmos


padahal sudah lama sengaja dikunci rapat
sebab, saat terbuka, ketakutan yang pertama kali menghampiri
dan tak pernah ada yang dapat menjelaskan dan memahami


entah siapa yang membuka
hingga detik ini tak ada jawaban yang diperoleh
putus asa hingga hampa


ternyata segala keyakinan diri luluh lantah
pengetahuan baru menciptakan ketakutan ekstrim
yang baru membuat ragu
hingga layu
iri hati menengok mereka yang tak ragu pada definisi ini itu
rasanya ingin seperti itu
namun skeptis dan ragu selalu muncul
ribuan pertanyaan terus melaju
hingga semua jalan amat rapuh
membuat jatuh


tekad aneh muncul
semua harus didefinisi ulang
kini tak ada realitas yang dapat dipercaya
semuanya semu
hingga indra tak memahami rasa
dogma dan doktrin tersuci pun tak mampu menghilangkan dahaga
maaf jika ini teralu berbahaya 
maaf jika ini membuat tak peka


rindu
pada entah apa itu
tapi bukan sesuatu,
ingin segera bertemu 


dosa terbesar tuk mengakui hanya saat tak mampu
ternyata selama ini definisi diri amat sempit untuk memahami
seperti dosa besar yang tak terlihat


seharusnya bukan sekedar candu saat tak mampu 
tapi yang dirindu seperti merayu
untuk segera bertemu


ingin memeluknya bukan karena sesuatu
bukan karena semua definisi kaku
bukan karena saat terjatuh


ingin memahami rindu itu
bukan karena sekedar membutuhkannya
namun hanya karena rindu itu


di mana yang dirindu?
ingin segera bertemu
yang dirindu bukan sesuatu
maka apa yang harus saya tahu?


bahagia adalah bertemu dengan yang dirindu
pantaskah merindu?
namun rindu ini terus melaju
sayangnya saya amat dungu
untuk tahu dan tak ragu 

Minggu, 08 Januari 2012

Khayal Surga

mungkin surga memang ada
entah di mana
entah apa definsi dan syaratnya

sebab hingga detik ini
tak ada yang bisa dipahami dari definisi klasik surga
apakah itu tempat?
apakah itu waktu?
atau hanya ruang pelarian?
atau sekedar khayalan?

maaf atas keraguan ini,
tak ada harap memang,
atas gapai yang tak tercapai,
yang melayang tak teraih,
atas warna warni yang terhapus kelabu
hingga air mata tak lagi mampu menjatuhkan biru
hanya keraguan,

dan surga memang hanya imajinasi belaka
yang muncul saat mata tertutup
saat lelap menjemput

So she ran away in her sleep
Dreamed of paradise
She dreamed of paradise
Every time she closed her eyes
(Coldplay-Paradise)

Sabtu, 07 Januari 2012

Nurani Membiru di Laut Biru

semuanya berjalan cepat
tak kuasa berlari mengejarnya
hingga di detik itu
di atas lembutnya butir pasir
hangatnya angin yang menyentuh lembut
udara yang mengisi relung
merdunya alunan ombak yang damai
dan segala kecantikan alam yang selalu membuat takjub
ada layar besar menayangkan semuanya kembali

awal
hingga akhir

adrenalin akan masa yang tak terlihat hari itu
meluap-luap, tak kenal lelah, tak paham putus asa,
hanya hasrat untuk mengarungi masa yang yak terlihat,
hari itu hanya memperkirakan masa itu penuh lika liku hidup,
yang mungkin akan dipenuhi haru, gembira, luar biasa, biru, sesak, jatuh, loncat, tinggi
segalanya,
entah apapun itu,
hari itu seperti awal yang meluap-luap

hari itu membuat air mata hampir jatuh
dan nurani membiru di laut biru

4 Januari

Terpikat,
Hangatnya butir pasir

Terpesona,
Tangguhnya karang
Menahan deburan dengan elegan

Terayu,
Hangatnya buih
Ombaknya mengajak tak kenal lelah

Awan putih menjadi latar belakang
Langit biru memenuhi
Angin laut menyentuh

Lembut
Tak memaksa
Tuk buat jatuh cinta
dengan pantai

Lembutnya air dan angin
Bernafaskan kenyamanan
Alunan deburnya
Mengalahkan segala distorsi
Hingga,
Jatuh cinta pada pantai
Selalu.