Kamis, 14 Juli 2011

Jangan Mereka


Sadar selalu tiba terlambat
Bahkan saat sadar tiba, jiwa dan raga masih urung menyambut
Dosa besar
Kini hanya doa dan harapan yang masih bisa diharap

Limpahkan segala dosa ini pada diri, hancurkan, binasakan, rendahkan, kacaukan diri saja
Jangan mereka
Mereka tak layak untuk menerima segala dosa
Hanya harapan ini yang dilantunkan dalam senandung doa
Padahal diri sudah tak layak memohon pada Tuhan
Namun, tak ada lagi tempat yang lain selain padaNya
Pada Tuhan saja diri masih egois
Mana layak memohon?
Saya amat paham sudah tak layak lagi memohon

Inilah makna nama saya
Manusia,
Saya akan selalu menjadi manusia
Yang memiliki lupa dan selalu menghadiri acara dosa

Bagi saya sudah terlambat
Namun ini amat adil
Saya tak akan menyelamatkan diri
Saya akan mati untuk menyelamatkan mereka
Sebab mata mereka selalu menunjukkan masa depan
Sebab hati mereka sungguh menjadi semangat diri
Dan perbincangan mereka tentang kasih

Saya tak akan pernah menjadi pahlawan sebab mereka lah pahlawannya
Saat mereka diam dan tak kunjung menanjak
Saat mereka semakin tumpul dan terkotak
Saat mereka bersedih dan merasa rendah diri
Saat mereka tak berubah dan merasa lemah
Itu adalah dampak dosa saya
Bahkan mereka tak menyentuh dosa secuilpun
Tuhan, masukan saya ke jurang paling dalam
Lalu hancurkan hingga tak bersisa
Jangan mereka
 
Kelabu adalah cahaya
Tak mengapa 
Mereka harus segera tiba

Selasa, 28 Juni 2011

Alibi Klasik

Klasik, tak pernah berubah alasan
Alasan menjadi sekedar alibi
Terlalu banyak ini itu
Diam di tempat
Takut melangkah?
Pesimis memang tak dapat lepas,
Maka, pikir berujar
Di depan pasti kelabu
Lalu mengapa harus menunggu cerah?
Menjadi matahari pengusir kelabu saja

Ah, sudah beribu alibi
Alibi yang tak logis akhirnya
Apa yang harus ditakutkan?
Mengambil keputusan atau tidak bukankah sama saja?
Kepastian itu sama tidak pastinya dengan ketidakpastian
Jangan menjadikan ketidakpatian menjadi alibi
Ketidakpastian hanya bagian dari ketakutan

Ada keyakinan bukan?
Dan Tuhan adalah keyakinan itu sendiri
Perubahan tak akan menyapa jika tak mau berubah
Berlari,
Sekarang,
Atau tidak untuk selamanya
Banyak yang harus diubah

Rabu, 08 Juni 2011

Mitos Pergerakan Mahasiswa

Harian seorang demonstran seorang aktivis dari Universitas Indonesia puluhan tahun silam membentuk sepenggal bingkai pemahaman saya tentang kehidupan mahasiswa. Maka, sebelum mengantongi label mahasiswa, saya pikir mahasiswa adalah pejuang, salah satu elemen bangsa yang menduduki posisi penting dalam perjuangan bangsa. Inilah salah satu motivasi sok idelalis saya untuk nekat mencicipi pendidikan perguruan tinggi.

Ekspektasi itu terlampau batas ternyata. Kampus yang saya duduki hari ini tak bernafaskan atmosfer buku harian aktivis tahun 1966 tersebut. Katanya ini era globalisasi, mungkin era pergerakan mahasiswa menjadi basi. Yang ada pergerakan mengikuti dinamika globalisasi untuk menjadi buruh dengan semangat kapitalis. Lucunya saya manggut manggut setuju untuk berorientasi kuliah demi menjadi buruh, katanya orang tua demi masa depan “cerah”. Jangan-jangan buku harian seorang demonstran itu hanya fiksi? Namun, semakin banyak hari yang dilewati, saya semakin ragu dengan doktrinasi semangat kapitalis dalam hampir segala mata kuliah saya.

Bank memori menyimpan sepenggal ajaran tentang fungsi mahasiswa yang diumbar saat PK2 Maba. Sepertinya itu sekedar formalitas agenda acara plonco mahasiswa baru di awal tahun ajaran. Sebab fungsi itu hampir menjadi omong kosong yang patut ditertawai penerapannya. Nyatanya hari ini saya terobsesi mengantongi IPK tinggi dan mengikuti berbagai kepanitian yang menjanjikan sertifikat untuk melancarkan jalan menjadi buruh setelah lulus.

Jangan harapkan saya memahami esensi tri darma perguruan tinggi, fungsi mahasiswa, apalagi kabar pergerakan mahasiswa, sebab ketiganya bukan syarat melamar menjadi buruh di perusahaan multinasional milik asing. Maka, mungkin tak aneh jika media hari ini menyebarkan pola pikir pesimis bagi masa depan bangsa. Permasalahan pihak asing yang telah lama menguasai berbagai sektor negara, korupsi yang mengakar di bumi pertiwi, nasib pedih petani dan buruh yang tak kunjung usai, dan tumpukan masalah negara nampaknya menjadi topik basi yang dibahas pers hari ini bagi saya. Mana sempat memikirkan tumpukan permasalahan bangsa? Sebab sejuta alibi tentang tumpukan tugas kuliah demi IPK yang menjulang tak dapat dikalahkan oleh penerapan “jargon” fungsi mahasiswa. Mungkin tak lama lagi, pergerakan mahasiswa kelak menjadi mitos dan sejarah yang akan diceritakan segelintir alumni.

Mungkin saya terlalu konservatif, kuno, sok idealis, dan tak memahami hari ini semata. Sebab hari ini budaya membaca menjadi budaya kuno. Sebab saya tak lagi menjalani perkuliahan demi memahami, menikmati, dan mengamalkan ilmu apalagi untuk digunakan berbakti kepada masayarakat sekitar. Sebab saya adalah manusia tak berwawasan luas dan tak terbuka yang hanya bisa mengkritik. Sebab saya adalah manusia pemalas yang memiliki semangat “anget tahi ayam” untuk berjuang demi perubahan bangsa.

Mungkin ini hanya kekhawatiran yang berlebihan dari pikir dan nurani. Namun, mengapa sampai hari ini tak ada kabar baik yang dilaporkan awak media tentang bumi pertiwi?

Rabu, 01 Juni 2011

Bergandengan Tangan

Beribu detik telah dilewatkan untuk sekedar berpikir
Menyeimbangkan pikir dan nurani
Tahun ini sungguh menyediakan berbagai pilihan
Memilih maju, berhenti, atau diam?
Saya selalu berpikir saya pasti tegar
Kuat
Selesaikan semua masalah
Sendiri
Ini ternyata yang membuat kaki tak pernah melangkah maju
Saya buta dan tuli
Pikir saya selalu mendominasi mengalahkan nurani
Terlalu angkuh hingga tak pandai bersyukur
Karena lelah saya hanya ingin segera berlari
Bukan tuk segera menyelesaikan tapi sungguh lari dari rintangan dalam keadaan buta dan tuli
Ribuan detik yang mengorbankan beberapa hari untuk disisihkan dalam keadaan diam ini saya mencoba mendengarkan bisikan nurani
Saya tak ingin buta dan tuli lagi

Selamat pagi kawan,
Mungkin anda pikir saya adalah makhluk angkuh,
Saya membuang ribuan detik kemarin,
Dan tak menggandeng anda,
Anda benar,
Sosialisasi menjadi hal asing sejak dahulu bagi saya,
Dalam membela kemanusiaan ternyata saya tak memiliki sifat kemanusiaan,
Saya amat kaku tuk sekedar membuka apalagi mempertahankan pembicaraan dengan kawan,
Padahal dalam ribuan detik kemarin nurani saya terus berbisik hingga berteriak: dengarkan hati kawanmu!, jangan jalankan tahun ini sekedar rutinitas belaka, pengguguran tanggung jawab, hutang, dan kewajiban

Ternyata anda yang saya tunggu untuk melangkah,
Bersama,
Bergandengan tangan,

Inilah dosa saya pada kawanku,
Saya tak pernah percaya nurani dan kekuatan kawan,
Melangkah sendiri.

Perubahan tak berjalan secepat motogp pada saya, bahkan bisa kalah dari lari siput,
Saya mungkin tak segera menjadi makhluk supel pandai berkomunikasi dengan kawan,
Tapi saya hanya bisa berusaha dan berupaya ini tak sekedar janji gombal.

Ini tahun ingin selalu saya kenang seumur usia,
Jika nurani tak dapat beirama dengan pikir,
Kalian kawan Redaksi adalah bahan bakar nurani untuk merayu pikir.

Ingat, kita semua tersandung, tak seorang pun tidak pernah tersandung. Itulah sebabnya terasa aman jika melangkah sambil bergandengan tangan. (Emily Kimbrough)

Di depan, rintangan pasti membuat kita tersandung hingga jatuh,
Memar dan luka pasti terasa hingga kaki tal lagi tegap melangkah,
Kalau kata Mba Uchy dan Mba Ravi kurang lebih: mungkin kakimu cacat sebelah, begitupun dengan kawanmu, lalu mengapa kalian tak bergandengan sehingga saling memanggul satu sama lain untuk berjalan?
Saya selalu suka kalimat itu.

Ini bukan pengeksklusifan divisi,
Hai Nona AKeno, Nona MarElla, Bung Aris, Bang Adib, Neng Dian, Bang Cahyo, Bung Gama, dan Kobong,
Mungkin permintaan maaf terlambat tiba,
Saya memang tak terbiasa untuk terbuka pada orang lain, namun ternyata kalian bukan orang lain,
Melainkan kawan hati saya
Terimakasih untuk tulus dan mata kalian yangselalu membuat nurani semakin tegar.
Semoga kalian masih ingin bergandengan tangan bersama Indi.

Senin, 18 April 2011

Maaf tak Berujung

Yang terkasih telah habis masanya di dunia fana
Isak tangis dan berbagai memori mengiringi kepergiannya
Yang terkasih memang tak memenuhi hari dan garis hidup saya, namun beliau amat berarti
Bukan sebatas beliau dan diri memiliki aliran darah yang serupa, namun segala memori, kenangan, dan pelajaran hakikat hidup yang walau tak banyak kuantitasnya tetapi berkualitas mengisi relung diri
Dan segala pemberian beliau hanya mampu dibalas oleh sepenggal kata maaf
Maaf sedalam-dalamya atas diri yang egois tak meluangkan waktu tuk sekedar bertemu, menyapa, memeluk, berbagi, dan berterimakasih atas segala
Maaf ini tak hanya sekedar sepenggal rangkaian kata untuk diucap dan ditulis
Ini adalah rangkaian kata yang amat dalam penyesalannya
Namun ini maaf yang tak akan memiliki jawaban sebab sang empu telah berpulang
Bahkan untuk mengiringimu pada perjumpaan terakhir, saya masih tak mampu mengorbankan waktu
Egois dan kurang dewasa memang alibi klasik yang selalu diri sesalkan
Kini hanya berbagai potongan kisah tentang perjalanan terakhir sang terkasih selalu saya cari
Penyesalan dan rindu yang dalam beliau tinggalkan di relung hati kami
Saya tak memahami dunia kekal yang didesain Sang Abadi, namun permintaan maaf ini selalu diri sampaikan untuk sang terkasih di dunia sana
Semoga beliau mendengarkan, itu saja cukup
Doa yang terbaik akan kami haturkan dalam hari-hari untuk sang terkasih
Doa tulus yang kami mohon pada Sang Abadi agar sang terkasih tenang di sana

Rabu, 30 Maret 2011

Simpang Arah

Kelabu,
Terlalu lama simpang arah menahan diri
Yang pesat melaju justru ramalan, prediksi, dan analisis kelabu
Tanda tanya di belakang jalan sering muncul secara implisit
Menahan langkah dan menyusutkan hasrat
Kini pikir menjadi musuh dan kawan setia di setiap kata
Dialog diri sungguh memaksa mengulas segala alasan melangkah
Hanya diri dengan saya bersama aku
Tak ada kamu, dikau, kawan, teman, bahkan Tuhan
Kapan diri melangkah?
Kawan di ujung jalan sudah berteriak sejak lama
Berharap ini bukan sofisme belaka
Mana yang harus dipilih?
Hitam, putih, atau kelabu saja?

Senin, 14 Februari 2011

Menanti Pagi

Terang itu nyata

Terang itu tampak

Terang itu merayu malu-malu

Terang itu tak seindah mentari pagi

Hanya lampu kamar yang mulai redup

Sang Masa membuktikan janjinya

Menambal jalan kerikil yang telah lalu

Walau kabut masih sesak, nafas hidup mulai terasa

Janji Sang Masa selalu ditunggu

Menunggu pagi yang akan tiba

Untuk kembali hidup

Pasti

Senin, 10 Januari 2011

Diam Kita

Entah bisikan dan berita apa yang berhembus
Ini mungkin tak dapat dimaafkan
Konsekuensi ini telah diri pahami sebelumnya
Memang kesalahan diri sepenuhnya
Hingga membuat Sang Bijak merasa gagal
Anda tak gagal, anda telah sangat hebat berlaga dalam perlombaan lari dengan sang waktu
Hanya saya yang memang tak lagi memiliki cita
Keyakinan itu telah runtuh perlahan-lahan sejak lama
Kata-kata hitam ini tak layak anda pahami sebab saya amat menyayangi nona bijak
Hitam ini tak rasional sama sekali, membuat penjara yang tak mudah dihancurkan
Namun nyatanya, saya selalu melihat kesedihan itu di malam hari saat semua terlelap
Bahkan hampir tak lagi meneteskan air mata saat melihat kesedihan itu
Sebab sudah kering kelopak mata ini

Bagaimana mungkin kamu jadikan tubuhmu sangkar bagi perasaan? Bukankah perasaanlah kandang dari jasad ini? Dalam diammu, aku mendengar banyak suara. Diammu berkata-kata.
Tangisanmu yang tak terlihat merobek ruang waktu dan menghampiriku dengan caranya sendiri. Mari, kususutkan air mata itu, kukecup keningmu halus, dan kutidurkan kepalamu di atas perutku yang hangat. Mari…
Kau dan aku menghembuskan napas. Tak lagi pengap. Tidak ada yang bergerak. Namun diam itu telah runtuh oleh diam.
(Diam-Dee)


Sungguh aku masih ingin menghampirimu, menyusutkan sedih itu, berlari dengan keyakinan yang tak semu. Menggapai bintang di cantik di angkasa bersama. Namun, diam ini telah runtuh oleh diam. Dan kereta waktu telah meninggalkan diri terlalu jauh, bersamamu dan mereka.

Maaf.

Selasa, 04 Januari 2011

Harmoni Pagi

Pagi kecil itu selalu membuat dunia fana tampak lebih ceria

Jangan bayangkan pagi saya berisi mentari cantik, udara segar, dan kicauan burung

Sebab kota industri tak akan bersenandung seceria yang dibayangkan

Pagi kecil justru bersahabat dengan alunan mesin dan polusi, terik mentari yang tak lagi dilindungi para pengahasil oksigen, dan detik jam dinding yang melaju seperti F1

Sungguh dunia postmo yang selalu terlambat saya pahami hingga hari ini

Namun pagi kecil itu selalu dirindu

Sebab orang-orang terkasih mengajak menikmati alunan bahasa yang indah

Di tengah dua dunia, air sejuk akan mengantarkan ke dunia fana

Dan hamparan kain kecil yang harumnya saya suka akan menemani tuk berbincang dengan Sang Pemilik Pagi

Jika difilmkan dengan paradigma postif dan mainstream mungkin beberapa penonton akan tertidur di kursi bioskop

Namun jika sutradara berotak postmo dan selera indie yang beraksi mungkin akan menghadirkan rol film yang menarik

Di tengah gerak gerik yang hampir senada setiap harinya, saya tak pernah merasa bosan

Sebab aura hangat orang-orang terkasih selalu membuat saya hidup

Semangat dan harapan tak pernah luput dari doa mereka

Keyakinan menjalani hari yang lebih indah selalu terpancar di dalam rumah kecil itu

Pagi kecil itu seperti selalu memulai hidup baru setiap harinya

Itulah yang membuat nurani hidup sebab bekal sekotak luapan aura hangat, keyakinan, semangat, dan harapan sangat cukup untuk menantang kota

Dan film ini tak akan pernah membosankan sebab penonton akan menghayati esensinya