Senin, 08 Oktober 2012

Cinta Palsu

Ah, ternyata saya masih megkhianatiMu. Cinta saya masih palsu. Harusnya Engkau tenggelamkan saya serendah rendahnya. Mendamba bertemu Engkau dan KekasihMu?
Semakin tak tahu diri saja saya ini. Dunia sungguh penjara yang nyata dalam mimpi fana. Nafsu sungguh menyiksa raga. Mungkin saya memang tak patut mendapat bahagiaMu. Jika penderitaan dapat menyetarakan kasihMu pada makhluk, saya amat rela. Jika Engkau meminta saya hancur menjadi pasir pantai, tak ada ragu melakukannya. Saya sungguh tak layak meminta. Namun rindu sungguh menderu, bertemu. Masih bolehkah doa dilantunkan?
Kamu terlalu baik, sungguh. Ribuan pujaku sungguh tak akan cukup untuk bersyukur. Aku milikMu.

Bahagia

Ketidakpastian selalu menimbulkan kecemasan hingga ketakutan. Maka, manusia sering mengabaikan nuraninya karena tak sabar menanti ketidakpastian. Walau konsep waktu tak banyak dipahami, menunggu dapat menjadi konsep yang seru. Dalam menunggu, perdebatan prasangka baik dan buruk selalu berlangsung. Jika, mengikuti nurani, prasangka baik layak menang dalam pertarungan. Berprasangka buruk, skeptis, dan pesimis pasti selalu datang menggoda pagi, nampaknya itu manusiawi, sebab ini bagian hidup manusia. Jika mendamba bahagia, maka anak ruh memang harus dilatih berdisplin ria tentang memilih kebaikan. Fana dunia sungguh sementara, maka memenangkan kebaikan sungguh berbuah manis walau mungkin bukan dunia fana yang menyediakan hadiahnya. Segala alasan, tujuan, tindak, dan nafas hidup dalam mimpi dunia fana ini hanya untuk yang dirindu. JanjiMu tentang pertemuan selalu meneguhkan nurani dan inilah bahagia yang hakiki. Semoga hasrat dan cinta pada ilmuMu selalu menemani dan mengiringi bahagia dalam penjara dunia fana. Melodi manis yang populis masih menjadi candu tuk sambil memujiMu. Setiap godaan meninggi dari rendah bumi harus menyingkir. Lupa adalah virus penyakit yang sering berkeliaran. Harapku selalu Engkau berkenan memberikan cahaya saat virus mendekatiku. Kamu didekatku, jika berkenan, senandung puji dalam hening nurani setia menunggu hadirMu dalam sadarku.