Sesungguhnya banyak hal yang sedang berdiskusi di dalam kepala saya. Kini saya coba mengutamakan fokus untuk menulis tulisan pertama ini. Namun, apa yang harus saya tulis? Entah, apa saja lah..
Saya selalu dan sering takut dan khawatir mengungkapkan segala sesuatu yang ada di benak. Banyak kekhawatiran terus tergambar dalam benak saya. Kadang rasanya seperti bom yang mudah meledak. Tak beraturan.
Entah tulisan apa ini. Tak bertujuan, tak ada alasan, tak jelas, hanya ingin menuliskan saja. Mungkin gara-gara sifat seperti ini, saya suka hidup teratur. Sekilas saya terlihat orang yang sangat teratur. Padahal sesungguhnya tidak. Sifat asli yang tak teratur ini sering membuat diri tersiksa. Oleh karena itu, saya selalu berusaha mengejar keteraturan. Dalam hal apapun, mulai dari hal kecil hingga hal raksasa.
Ini selalu bermula dari kepala saya. Seperti ada banyak sekali yang selalu berlalu lalang di dalamnya. Bahkan seperti ada televisi yang nyala non-stop 24 jam. Kecepatannya kadang seperti motor-motor yang berlaga di sirkuit motogp. Tak dapat dikendalikan. Kembali tak beraturan. Kadang saya terhanyut dalam perlagaan ini. Kembali masuk dunia kepala saya. Bahkan hingga tak memperdulikan dunia di luar tubuh. Karena semakin lama saya bosan dengan dunia di luar tubuh. Semakin klasik, bobrok, dan mulai mati.
Oleh karena itu, saya selalu berusaha menuju keteraturan. Tak mudah sesungguhnya menyadari dan melakoninya. Dalam kesadaran, saya harus mengalahkan ketidakteraturan menuju keteraturan yang sering berulang, berpola, hingga menjadi robot saja.
Sesungguhnya mana yang saya suka? Keduanya bisa saja. Kok begitu? Mengapa tak memilih salah satu? Apakah saya ini linglung dan tak tegas? Entah. Saya katakan ini relatif sebab nyatanya hidup memang begitu. Guru pengalaman selalu menunjukkan pada nurani bahwa konstan dan konsisten kadang dapat membiaskan kemanusiaan. Ini alibi? Mungkin, tapi saya jamin bukan. Sebab saya hanya ingin hidup. Hidup sehidup hidupnya. Sebab saya sering merasa mati di tengah kehidupan. Atau saya hidup di dunia yang mati. Atau jangan-jangan saya memang mati di tengah dunia yang memang mati. Entah.
Selalu. Saya selalu memulai segalanya dengan pesimis dan skeptis. Banyak yang benci itu. “Mengapa sih kamu selalu memulai segalanya dengan negatif? Pesimis dan skpetis? Ayolah berpositif ria..”. Saya juga kurang paham mengapa selalu memulai dengan begini. “Ah, alasan saja, mari berlatih untuk selalu positif kawan”. Katakan saja mungkin saya malas untuk memulai berpositif ria karena saya sering dikecewakan dengan akhir cerita perfilman kehidupan. Bisa dibilang saya belum dapat selalu menerima kenyataan kehidupan. Apalagi kenyataan hidup sering terlalu hitam. Sehingga saya bosan dengan motivator pengumbar positif thinking. Membuat saya semakin berharap dan berekspektasi. Padahal saya selalu mematok ekspektasi yang menjulang angkasa. Oleh karena itu, saya masih memilih hidup di tengah pesimis, negatif, dan skeptis. Agar saya dapat belajar lebih kuat menerima perfilman kehidupan.
Tenang saja, jangan khawatir hidup saya menjadi selalu muram dan patut dikasihani. Ini alur jalan yang saya pilih. Saya meyakini ini mengantarkan ke cahaya yang terang benderang. Jika jalan ini ternyata salah, saya pasti akan mendapat pelajaran yang terbaik dan justru membuat saya semakin hidup bukan? Saya masih meyakini tangan yang tak terlihat terus menuntun saya untuk belajar.
Maka inilah tulisan pengantar saya. Tulisan pertama, tanpa tujuan, tidak jelas, tak ada alasan. Hanya ingin menuangkan benak saja dan mengenalkan dunia kepala saya. Sebab saya juga masih terus mempelajari dunia perfilman kehidupan yang katanya nyata.