Kamis, 23 Desember 2010

Nurani Berkarat

Film ini terlalu panjang dan saya terjebak di dalamnya.

Kelihatannya aktornya hanyalah saya, ternyata lawan main saya cukup banyak, hanya saja terlihat abstrak.

Lawan main utama ternyata memang sulit dikalahkan. Saya hampir kehabisan ide dan tenaga. Bahkan nurani seperti telah sekarat dan menjadi berkarat.

Lawan main sangat handal mengendalikan udara di sekitar tubuh menjadi biru, bahkan hitam. Tidak ada oksigen lagi di dalam udara, terlalu banyak kandungan toksik dan virus berbahaya. Membuat akal tak lagi mengenal rasio dan logika. Bahkan virus telah mengalami fase kebal terhadap berbagai antibiotik. Virus dan toksik ini sudah mendarat pada nurani dan akal dengan mulus.


Saya amat ingin membawa armada yang sedang tenggelam ke pantai. Namun, ternyata nurani yang berkarat mampu mematikan rasa cinta saya pada armada. Impian menyelamatkan dan memperbaiki armada telah lebih dahulu tenggelam sebelum armada tenggelam. Namun awak kapal di sana memandang kejam dan berteriak-teriak pada saya untuk segera menyelesaikan dayung dan mengayuh armada melaju. Ya, saya mendengar kalian, tapi nurani saya tidak sebab ia sudah lama sekarat dan menjadi berkarat. Maka, saya akan membuat dayung tanpa nurani. Hanya sekedar membuat dayung dan mengayuh armada entah ke mana.

Daratan cantik dan sejuk ini terlalu pengap untuk saya hari ini. Saya amat rindu tanah lama, walaupun kering namun membuat saya lebih hidup dan bahagia. Sebab ternyata saya tak lagi memiliki orang-orang terkasih di daratan cantik nan sejuk. Saya amat merindukan orang-orang terkasih di tanah lama.


I’m trying to be strong, I’m here standing alone

But it’s time for me to face the future

I promise to come back and I hope that you’ll remember me as yours

(Remember Me-Endah n Rhesa)

Tidak ada komentar: