Sudah lama prasangka ini menghampiri. Sesungguhnya semua memang baik saja atau hanya rasa yang salah menginterpretasikan? Rasa kerap menginterpretasikan hari bangsa adalah kelabu. Namun mengapa masih tak ada cahaya terang? Penghuni di hari kelabu juga masih tenang tampaknya. Bahkan terlalu tenang. Tenang hingga mati. Katanya kita ini apatis, menurut saya bahkan hampir mati. Sebab kita tak merasa dijajah, kita tak merasa dipekerjakan, kita tak merasa dibodohi. Kita malah merasa semua baik saja, mungin saya saja yang berlebihan. Kita merasa baik saja untuk datang ke kampus sekedar mengejar IPK tinggi dan lulus, mengikuti organisasi sekedar dapat label aktivis, mengikuti berbagai kepanitian untuk mengejar sertifikat semata. Itu semua kita bilang baik saja. Lalu kita lulus, dapat ijazah, mengikuti berbagai festival pencari buruh. Berharap diterima di salah satu perusahaan raksasa multinasional tuk menjadi pekerjanya. Bahasa sopannya, mengabdi pada perusahaan tersebut, bahasa kasarnya menjadi buruh. Dan lucunya kita amat bangga jika menjadi buruh dari perusahaan raksasa multinasional tersebut.
Katanya ini amat membanggakan. Dapat gaji “besar”, memiliki kantor di gedung-gedung menjulang, pakai dasi dan jas, makan di restoran mahal, memakai telepon seluler dan komputer jinjing terkini, segala teknologi tercanggih, dan sebagainya. Tak lupa mari berpamer ria di situs jejaring sosial, reuni kawan-kawan, dan segala "pergaulan" hari ini. Apakah mungkin mata dan nurani saya yang selalu salah melihat dan merasa Sekedar menghibur diri, saya membayangkan ini adalah film menyedihkan berdurasi panjang di dunia fana.
Mari Bercermin
Saya juga akan mengikuti alur tersebut. Study and high score oriented, terobsesi masuk perusahaan raksasa multinasional ternama yang kantornya di gedung-gedung mentereng di ibukota sana. Katanya ini paradigma sukses hari ini. Paradigma sukses anak bangsa yang membungkam dan menutup kepekaan dan nurani. Paradigma sukses yang bangga saat gajinya “besar” padahal tak ada apa-apanya dibandingkan pengerukan gila-gilaan pada SDA dan segala yang dimiliki bangsa oleh berbagai perusahaan raksasa multinasional. Lucunya kita bangga diperbudak tuan investor asing dan mempersembahkan kekayaan bagi mereka dengan timbal balik yang tak sepadan. Entah bagaimana alurnya hingga paradigma ini terbentuk.
Lucu Bukan?
Yang lebih menyakitkan lagi, saya menyadari semuanya. Nurani selalu menggoda tuk melihat hari bagsa lebih dalam lagi. Dan yang lebih lucu lagi, saya selalu berpikir: Apa daya? Ini sistem sangat besar. Mana mungkin bisa berubah? Ikuti saja. Nurani tak akan menang dari pikir saya yang busuk. Ya, saya adalah generasi bermental instan dan lemah. Nurani yang mati, kepekaan yang tumpul, dan egoisme yang tinggi. Mana sempat saya memikirkan kaum marjinal? Bagi saya, rakyat yang menderita dan kelaparan di pelosok sana hanyalah mitos dan isu media yang berlebihan. Bagi saya yang paling penting adalah saya, saya, dan saya. Tak peduli kamu, dia, dan mereka.
Saya adalah generasi berpengetahuan dan berwawasan sempit. Apa guna membaca buku dan berdiskusi Halamannya saja tebal dan membuang waktu. Lebih baik bermain game, mengikuti mode terkini, berbelanja ria, nongkrong di mall, dugem, dan bereksistensi ria di situs situ jejaring sosial. Lebih baik saya fokus mengejar IPK tinggi. Lebih enak berhedon ria. Jadi, bukan zamannya lagi sok idealis memikirkan persoalan bangsa. Berdiskusi dan berdebat tentang masalah bangsa bukanlah syarat menjadi anak “gaul”. Apalagi berdemo meneriakan “hidup mahasiswa”, pasti dicap buruk. Ini dagelan konyol yang menyayat nurani.
Lelucon Aktivis Hari Ini
Bolehlah saya ikut organisasi dan kepanitiaan kampus agar memiliki segudang sertifikat, menambah keren curriculum vitae, dan tak lupa bereksistensi ria. Lalu saya yang dilabeli aktivis atau semacamnya malah mengikuti paradigma pekerja. Mengikuti organisasi berarti memiliki proker kepengurusan selama satu tahun. Saat seluruh proker dapat dijalani, anda meyakini menjadi aktivis yang berhasil. Ada juga organisasi yang bangga bekerja individual. “Yang penting proker staf atau divisi saya terlaksana, maka saya telah berhasil. Tak usah memikirkan staf lain, divisi lain, apalagi pergerakan mahasiswa. Itu hanya mitos dan lelucon belaka”. Jangan harap kami memahami makna nasionalisme apalagi Pancasila. Membaca koran saja kami malas, apalagi buku buku tebal. Jangan mengajak kami berdiskusi tentang ideologi kanan versus kiri atau apalah itu. itu petunjuk jalan atau apa? Hari ini kami lebih suka "cukup tahu saja" tentang ini itu lewat media instant, kan sambil bergaya. Tak ada yang salah, silakan saja mengikuti zaman. Zaman edan.
Saya Pun Tak Kalah Cacat
Saat berdiskusi tentang pergerakan mahasiswa, kami malah sibuk menyalahkan si ini dan si itu. Padahal saya yang dilabeli aktivis ini justru seharusnya memiliki tanggung jawab dan beban moral yang lebih besar dalam perubahan bangsa. Namun, bukannya mengubah ke arah yang lebih baik, malah menjerumuskan ke arah kelabu. Saya yang katanya semacam aktivis ini, masih saja malas membaca buku, membuka wawasan, egois, tidak berdisipilin, malas, dan berpikiran sempit. Proker adalah orientasi utama. Mengugurkan kewajiban yang ada, dan bermental lemah.
Saya selalu teringat diskusi dengan seorang sahabat saya. Kurang lebih kesimpulannya: rasanya kita merasa terlambat menyadarinya, tapi mungkin ini memang prosesnya. Empat tahun ternyata sangat tidak cukup. Dan kita selalu merasa bersalah untuk kontribusi kita yang tak ada seujung kuku demi perubahan bangsa dan pergerakan mahasiswa. Sepertinya singgah di kampus lebih dari empat tahun untuk alasan ini tak memalukan. Tapi? Apakah mungkin? Dilema yang tak mudah dipecahkan.
Lalu apa yang harus dilakukan? Apakah saya tak usah ambil pusing? Apakah saya menyalahkan orang lain saja? Namun saya yakin perubahan tak akan datang, sebab saya mungkin bisa jadi salah satu penentunya. Mungkin perubahan yang justru menunggu kita, bukan kita yang malah menunggu perubahan. Saya harus segera memulai sebab waktu ternyata tak menunggu. Siapa lagi yang harus memulai? Tak usah tunjak tunjuk. Mari menunjuk diri sendiri. Memulai langkah kecil dan konsisten menjalaninya, mari bersiap bertarung dengan jalur populer kawan. Entah ini rasa tepat atau tidak. Saya hanya selalu mencoba belajar mendengar nurani. Saya yakin ini benar.