Sabtu, 24 Maret 2012

Jalan Pilihan

Mengapa masa depan paradigma kebanyakan tak lagi membuat saya bergairah? Harus ada pola jalan baru yang dirancang asal bukan sekedar alasan. Memang tak banyak pilihannya, maka rangkaian jalan sebaiknya dirancang sesuai keyakinan. Mungkin impian perjuangan bukan hanya berupa menentang. Mengikuti arus besar dapat dicoba dengan berbekal nurani kekal tentang keyakinan perjuangan. Cita-cita perjuangan yang merupakan pijakan berjalan di masa depan memang tak akan mudah. Pastinya terlihat mengada ada dan lemah tapi tak apa. Jadikan segala jalan paradigma kebanyakan sebagai cara menuju cita cita keyakinan.
Keputusan tentang pilihan kerap melibatkan perdebatan logika dan rasa.Semoga keyakinan perjuangan merupakan makna jalan masa depan sebab rasa tak mudah berdamai dengan logika.

Menghamba Udara

Bebas katanya. Ini era kebebasan diumbar hingga bubar. Semua mulut bisa bicara juga teriak. Segala mata dapat melihat ataupun plagiat. Setiap tangan bisa meraba dan menghantam. Kaki kita keluar ke mana. Demokrasi adalah slogan lama yang jadi sekedar kata. Kata kata tak disangka menjadi senjata. Siapa tak muak dengan bual para penjahat kata? Umbar sembarang kata maka kami tak percaya. Karena tak pernah puas, kami berteriak. Teriak hingga meledak. Di jalan, di kertas, di ruang, di layar, di mana mana hingga tersedak kata.


Bebas era ini tak bermakna. Kami tetap dijerat di penjara. Bukan ruang terali besi, melainkan negeri merdeka yang mendekati neraka. Bebas kami tak merdeka sebab hanya semu belaka. Anda, tuan kata, hanya sekedar menjual kata. Janji diobral serasi namun ternyata basi.


Hari ini seperti mati. Materi adalah Tuhan kami. Segala sensasi birahi jadi produk manis. Kami tetap miskin hingga mati. Di mana merdeka? Kami tetap terpasung mafia, dihadang raja materi. Mereka bilang kaya itu harta. sebab Tuhan adalah benda, yang disembah oleh hamba. Uang tak lagi benda yang ada, namun  menjelma menjadi udara yang abstrak. Mengisi relung badan hingga jiwa. Kami tak dapat hidup tanpa udara. Maka udara dicipta hingga sesak ruang hampa. Dan kami menghamba pada udara. Segala nikmat adalah menghirup udara. 


Masa ini mayoritas berkata bahagia adalah menenggak udara. Manusia bermartabat merupakan raja udara. Surga dunia tercipta jika berlimpah uang. Udara menjejali tenggorokan hingga tersedak. Udara uang kerap menggoda. Tak lama udara berubah petaka yang mengundang marabahaya. Rangkaian sistemnya terlihat megah dan mewah. Dunia terpana dan menghamba pada segala udara. Maka apa makna bernyawa jika udara adalah segala? Mayoritas hanya akan tertawa lantas menduga semua kata ini hanyalah sampah dan terkaan yang mengada ada.