Bebas katanya. Ini era kebebasan diumbar hingga bubar. Semua mulut bisa bicara juga teriak. Segala mata dapat melihat ataupun plagiat. Setiap tangan bisa meraba dan menghantam. Kaki kita keluar ke mana. Demokrasi adalah slogan lama yang jadi sekedar kata. Kata kata tak disangka menjadi senjata. Siapa tak muak dengan bual para penjahat kata? Umbar sembarang kata maka kami tak percaya. Karena tak pernah puas, kami berteriak. Teriak hingga meledak. Di jalan, di kertas, di ruang, di layar, di mana mana hingga tersedak kata.
Bebas era ini tak bermakna. Kami tetap dijerat di penjara. Bukan ruang terali besi, melainkan negeri merdeka yang mendekati neraka. Bebas kami tak merdeka sebab hanya semu belaka. Anda, tuan kata, hanya sekedar menjual kata. Janji diobral serasi namun ternyata basi.
Hari ini seperti mati. Materi adalah Tuhan kami. Segala sensasi birahi jadi produk manis. Kami tetap miskin hingga mati. Di mana merdeka? Kami tetap terpasung mafia, dihadang raja materi. Mereka bilang kaya itu harta. sebab Tuhan adalah benda, yang disembah oleh hamba. Uang tak lagi benda yang ada, namun menjelma menjadi udara yang abstrak. Mengisi relung badan hingga jiwa. Kami tak dapat hidup tanpa udara. Maka udara dicipta hingga sesak ruang hampa. Dan kami menghamba pada udara. Segala nikmat adalah menghirup udara.
Masa ini mayoritas berkata bahagia adalah menenggak udara. Manusia bermartabat merupakan raja udara. Surga dunia tercipta jika berlimpah uang. Udara menjejali tenggorokan hingga tersedak. Udara uang kerap menggoda. Tak lama udara berubah petaka yang mengundang marabahaya. Rangkaian sistemnya terlihat megah dan mewah. Dunia terpana dan menghamba pada segala udara. Maka apa makna bernyawa jika udara adalah segala? Mayoritas hanya akan tertawa lantas menduga semua kata ini hanyalah sampah dan terkaan yang mengada ada.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar