Kamis, 31 Mei 2012

Surat Pamit

Selamat malam Tuan Wonka, saya harus segera terlelap menuju yang mereka bilang tidur, misteri aktivitas tubuh yang masih dipelajari para intelektual. Para pilihan sudah tak sabar menunggu di ujung mimpi. Mimpi malam ini menjadi perpisahan yang akan dirindu.
Tur bervakansi di dunia Tuan Wonka amat menghibur, berkumpul bersama reuni. Berdendang tak henti di laju terasyik. Daftar puluhan irama lembut hingga menghentak diputar setiap detik. Imaji kita nyata dan bahagia bermimpi tak pernah berhenti. Misteri dunia warna warni menyajikan kembang gula termanis. Senyam senyum, sedih merintih, malu mau, ketus kesal, marah kasar, takut menghantu, riang gembira, hingga
hampa hambar menyapa rasa di tiap sudut jalan.
Sugar satellite is the sweetest name that you made for me. Your sugar satellite will always miss to around you world and peeping tom for the mother station. Mr. Wonka always be my King satellite castle, I promise. I am your drama queen because there's a honey pie in my eyes. I hope you stop the intolerably blue because
the sun will come although the hope left us.
We are black and blue, see it black and white. You are never wrong and I always right. We argue the point, the point is to disagree.You are not my clown, i hate that creature you know. But this is not my sympathy, you are so intoxicated.
Comment te dire. Pourquoi tu gaches ta vie, you said. I will learn before I die, will learn to love and learn to try. In color worlds you are sitting across from me, watching everything I do. When I wake up, I will see you too.
Dunia bangun tidur masih menyembah keseragaman. Kacamata eksentrik menjadi cinderamata paling ajaib. Lensa mika akan memantra mata dan menghantarkan listrik berdaya lebih dalam saraf neuron. Sebab aliran pop tak harus populer dan diperbudak mayoritas. Setelah tambahan beberapa topeng selesai diukir, saya akan menyimpannya di lemari agar rapi. Dunia bangun tidur bukan mimpi buruk, hanya sandiwara berepisode ratusan di atas panggung megah nan reyot. Lampu panggung yang terlalu terik berpose menandingi matahari, namun sinarnya malah menghakimi bumi.
Sudah malam Tuan Wonka, waktu memandang tajam pada kita. Jika Tuan penasaran untuk bangun tidur, semoga surat itu mampir ke depan pintu kamar. Doakan jiwa warna warni tak pudar oleh kabut massa. 

Kamis, 24 Mei 2012

Fragmen Sementara


Tak ada yang dapat dipercaya. Tak ada bahasa yang mampu mengungkap makna. Ini hari yang tak mudah diduga, pesimis masa dirudung duka. Lagi lagi bahasan hidup dunia merayu saya. Gombalan dalam kata kalimat-paragraf-esai-semacam tulisan-dan lainnya merayap kepala. Hingga mana yang harus dirupa? Bahkan Tuhan dunia ternyata hanya sampah filsafat. Kita selalu tergoda menapak Gunung Sina. Karena tak bertemu dengan-Nya, berhala jadi pemuas.

Fragmen ini bersifat tak permanen. Sebab detik hari menimbulkan pengetahuan baru bahkan dapat melenyapkan prinsip usang. Ke mana saya menuju? Mencoba saja ikuti perkataan-Nya yang nyata di lembar wahyu yang terang.

Bukan Menyerah


Bukan fanitisme menggila, saya hanya membutuhkan pegangan.

Kebenaran dunia tak mudah ditemukan. Hampir fana segalanya. Tak ada kata, kalimat, paragraf, menjelma bahasa, dan segala pendapat-argumentasi yang rumit mampu membuktikan hakiki. Ini nyata, makhluk selalu takut akan ketidakpastian. Maka bisnis asuransi, serupa Tuhan saja, akan laris manis sebab makhluk mendamba pasti, dan bisnis ini ibarat jelmaan Tuhan yang dirupa agar tak lagi abstrak, keluh makhluk. Padahal hidup selalu tak pasti. Dan yang paling pasti adalah ketidakpastian itu sendiri. Tak ada yang asli hari ini. Mungkin ada tapi seperti jarum yang menjelma jerami. Entah dari mana ternyata kepala kami adalah imitasi. Segala argumen, penelitian, pendapat, analisa, nilai, norma, etika tak menjamin pasti.

Mengapa menjadi serumit ini? Jangan-jangan isi kepala bermutasi sebab virus argumen tak berujung. Ini kecerdasan otak yang katanya sesungguhnya amat luar biasa? Atau sekedar keangkuhan manusia karena pemberian akal? Lalu mengapa ada sifat menentang, kritis, dan tak patuh? Selalu tergoda hasrat hingga kami menghalalkan banyak yang haram? Bahkan hitam dan putih kini kabur dari penglihatan. Abu-abu semuanya....
Kapan ketenangan akan menyambut nurani?
Katanya, entah siapa, pintu tujuan belum terbuka. Ingin segera, walau konsep waktu tak pernah saya pahami.

Pegangan yang kataNya terang itu tak mudah dipahami, tapi tak disangkal ada sepercik ketenangan yang mengalir. Ini bukan menyerah kan? Pertanyaan akan terus mengetuk. Bahkan logika mungkin mengejek dan merasa iba. Tapi keyakinan itu tak dapat dinalar. Ikhlas saja, ternyata tak mudah. Terbiasa adalah pilihan.

Sabtu, 19 Mei 2012

Ilusi Realitas

Ini bukan lengah tapi sengaja diam
Mencoba mengalir itu seperti apa
Tak berlogika dan rasa, hanya mengalir
Sebab jendela di samping pintu baru terbuka kemarin sore
Dan pertunjukan yang dihadirkan dunia cukup mencengangkan
Hingga saya terdiam mepet kecewa
Maka imajinasi menggoda bermain
Nada nakal, irama hentak, warna warni terang yang ternyata tak membawa cahaya
Gembira hanya sesaat tak pernah kekal
Kembali terdiam, tersadar pilihan
Hanya itu, memilih!
Inilah hari ini, walau ini realitas asing bahkan lebih parah dari dunia imajinasi
Semaikn hari tak ada bahasa yang memberikan hakikat
Mungkin karena terlalu banyak makhluk imajinasi terlepas dari penjara khayalan
Hingga saya hampir tak dapat menemukan layar pemisah realitas dan imaji
Jangan-jangan ini bukan hidup?
Atau realitas sudah mati dibunuh imajinasi?
Hanya prasangka hidup?
Ini realitas yang lahir dari ilusi imajinasi?
Atau antara mimpi dan terjaga?
Tak ada yang dapat dipahami,tapi pilihan terus mengetuk pintu
Mengapa memilih? Jalan depan akan saya bangun dari serpihan ilusi mimpi dan keyakinan
Terimakasih pada melodi mistis dan fana yang mengiringi energi yang sedikit tersisa

Selasa, 15 Mei 2012

Kembali Lagi


Rasa menyeret tertatih tatih
Sesal, lelah, biru, dan kelabu menuju hitam duka
Ratusan tanya tak pernah menemukan jodoh jawaban
Hingga tak ada tujuan hari esok yang patut diikuti
Segala sandaran di dunia adalah fana
Berbagai pendapat tak terbukti 


Inilah fana semu yang telah digoreskan jelas di atas petunjukNya
Nyatanya makhluk lemah ini terlalu angkuh
Seperti pintu tertutup, segala yang benar ditentang dengan linglung
Tak ada kesenangan yang melegakan
Dan kenikmatan dunia tak memberikan kesejukan
Apa yang harus dicari?
Padahal Dia ada di sebelahmu
Ke mana kaki harus melangkah?
Padahal Dia menuliskannya di lembaran suci


Kemarin pemain film fana memilih skenario episode yang bertentangan dengan Sang Sutradara
Maka, episode demi episode film terasa hambar
Ada warna warni dan lezat menggoda
Pemain tak menghiraukan skenario awal,
Maka layar kelabu terus mewarnai
Warna warni dan lezat menggoda hanya visual fana belaka yang menghembuskan angin kering nurani
Berlari pada segala sandaran dunia tak juga menghapus layar kelabu
Sebab angkuhnya, pemain melupakan Sang Sutradara


Pantas saja segala buku tak menjawab ratusan pertanyaan
Sebab Dia adalah pemilik segala jawaban hakiki


Makhluk pengingkar janji ini tak ingin beromongkosong
Dan ini bukan pakta perjanjian sebagai bukti
Hanya merangkai pemahaman sementara


Jika Sang Hakiki berkenan,
makhluk serba tak mampu ini hanya mencoba melangkah setapak tuk kembali,
bahkan lambat langkahnya dikalahkan kura-kura
Awal usaha ini semoga tak rubuh
Sebab ternyata, Kamu adalah alasan film fana dunia
Walau hanya mengingat dan mengharapkanMu sedetik mampu menghidupkan detak nurani