Kamis, 24 Mei 2012

Bukan Menyerah


Bukan fanitisme menggila, saya hanya membutuhkan pegangan.

Kebenaran dunia tak mudah ditemukan. Hampir fana segalanya. Tak ada kata, kalimat, paragraf, menjelma bahasa, dan segala pendapat-argumentasi yang rumit mampu membuktikan hakiki. Ini nyata, makhluk selalu takut akan ketidakpastian. Maka bisnis asuransi, serupa Tuhan saja, akan laris manis sebab makhluk mendamba pasti, dan bisnis ini ibarat jelmaan Tuhan yang dirupa agar tak lagi abstrak, keluh makhluk. Padahal hidup selalu tak pasti. Dan yang paling pasti adalah ketidakpastian itu sendiri. Tak ada yang asli hari ini. Mungkin ada tapi seperti jarum yang menjelma jerami. Entah dari mana ternyata kepala kami adalah imitasi. Segala argumen, penelitian, pendapat, analisa, nilai, norma, etika tak menjamin pasti.

Mengapa menjadi serumit ini? Jangan-jangan isi kepala bermutasi sebab virus argumen tak berujung. Ini kecerdasan otak yang katanya sesungguhnya amat luar biasa? Atau sekedar keangkuhan manusia karena pemberian akal? Lalu mengapa ada sifat menentang, kritis, dan tak patuh? Selalu tergoda hasrat hingga kami menghalalkan banyak yang haram? Bahkan hitam dan putih kini kabur dari penglihatan. Abu-abu semuanya....
Kapan ketenangan akan menyambut nurani?
Katanya, entah siapa, pintu tujuan belum terbuka. Ingin segera, walau konsep waktu tak pernah saya pahami.

Pegangan yang kataNya terang itu tak mudah dipahami, tapi tak disangkal ada sepercik ketenangan yang mengalir. Ini bukan menyerah kan? Pertanyaan akan terus mengetuk. Bahkan logika mungkin mengejek dan merasa iba. Tapi keyakinan itu tak dapat dinalar. Ikhlas saja, ternyata tak mudah. Terbiasa adalah pilihan.

Tidak ada komentar: