Selasa, 15 Mei 2012
Kembali Lagi
Rasa menyeret tertatih tatih
Sesal, lelah, biru, dan kelabu menuju hitam duka
Ratusan tanya tak pernah menemukan jodoh jawaban
Hingga tak ada tujuan hari esok yang patut diikuti
Segala sandaran di dunia adalah fana
Berbagai pendapat tak terbukti
Inilah fana semu yang telah digoreskan jelas di atas petunjukNya
Nyatanya makhluk lemah ini terlalu angkuh
Seperti pintu tertutup, segala yang benar ditentang dengan linglung
Tak ada kesenangan yang melegakan
Dan kenikmatan dunia tak memberikan kesejukan
Apa yang harus dicari?
Padahal Dia ada di sebelahmu
Ke mana kaki harus melangkah?
Padahal Dia menuliskannya di lembaran suci
Kemarin pemain film fana memilih skenario episode yang bertentangan dengan Sang Sutradara
Maka, episode demi episode film terasa hambar
Ada warna warni dan lezat menggoda
Pemain tak menghiraukan skenario awal,
Maka layar kelabu terus mewarnai
Warna warni dan lezat menggoda hanya visual fana belaka yang menghembuskan angin kering nurani
Berlari pada segala sandaran dunia tak juga menghapus layar kelabu
Sebab angkuhnya, pemain melupakan Sang Sutradara
Pantas saja segala buku tak menjawab ratusan pertanyaan
Sebab Dia adalah pemilik segala jawaban hakiki
Makhluk pengingkar janji ini tak ingin beromongkosong
Dan ini bukan pakta perjanjian sebagai bukti
Hanya merangkai pemahaman sementara
Jika Sang Hakiki berkenan,
makhluk serba tak mampu ini hanya mencoba melangkah setapak tuk kembali,
bahkan lambat langkahnya dikalahkan kura-kura
Awal usaha ini semoga tak rubuh
Sebab ternyata, Kamu adalah alasan film fana dunia
Walau hanya mengingat dan mengharapkanMu sedetik mampu menghidupkan detak nurani
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar