Senin, 10 Januari 2011

Diam Kita

Entah bisikan dan berita apa yang berhembus
Ini mungkin tak dapat dimaafkan
Konsekuensi ini telah diri pahami sebelumnya
Memang kesalahan diri sepenuhnya
Hingga membuat Sang Bijak merasa gagal
Anda tak gagal, anda telah sangat hebat berlaga dalam perlombaan lari dengan sang waktu
Hanya saya yang memang tak lagi memiliki cita
Keyakinan itu telah runtuh perlahan-lahan sejak lama
Kata-kata hitam ini tak layak anda pahami sebab saya amat menyayangi nona bijak
Hitam ini tak rasional sama sekali, membuat penjara yang tak mudah dihancurkan
Namun nyatanya, saya selalu melihat kesedihan itu di malam hari saat semua terlelap
Bahkan hampir tak lagi meneteskan air mata saat melihat kesedihan itu
Sebab sudah kering kelopak mata ini

Bagaimana mungkin kamu jadikan tubuhmu sangkar bagi perasaan? Bukankah perasaanlah kandang dari jasad ini? Dalam diammu, aku mendengar banyak suara. Diammu berkata-kata.
Tangisanmu yang tak terlihat merobek ruang waktu dan menghampiriku dengan caranya sendiri. Mari, kususutkan air mata itu, kukecup keningmu halus, dan kutidurkan kepalamu di atas perutku yang hangat. Mari…
Kau dan aku menghembuskan napas. Tak lagi pengap. Tidak ada yang bergerak. Namun diam itu telah runtuh oleh diam.
(Diam-Dee)


Sungguh aku masih ingin menghampirimu, menyusutkan sedih itu, berlari dengan keyakinan yang tak semu. Menggapai bintang di cantik di angkasa bersama. Namun, diam ini telah runtuh oleh diam. Dan kereta waktu telah meninggalkan diri terlalu jauh, bersamamu dan mereka.

Maaf.

Selasa, 04 Januari 2011

Harmoni Pagi

Pagi kecil itu selalu membuat dunia fana tampak lebih ceria

Jangan bayangkan pagi saya berisi mentari cantik, udara segar, dan kicauan burung

Sebab kota industri tak akan bersenandung seceria yang dibayangkan

Pagi kecil justru bersahabat dengan alunan mesin dan polusi, terik mentari yang tak lagi dilindungi para pengahasil oksigen, dan detik jam dinding yang melaju seperti F1

Sungguh dunia postmo yang selalu terlambat saya pahami hingga hari ini

Namun pagi kecil itu selalu dirindu

Sebab orang-orang terkasih mengajak menikmati alunan bahasa yang indah

Di tengah dua dunia, air sejuk akan mengantarkan ke dunia fana

Dan hamparan kain kecil yang harumnya saya suka akan menemani tuk berbincang dengan Sang Pemilik Pagi

Jika difilmkan dengan paradigma postif dan mainstream mungkin beberapa penonton akan tertidur di kursi bioskop

Namun jika sutradara berotak postmo dan selera indie yang beraksi mungkin akan menghadirkan rol film yang menarik

Di tengah gerak gerik yang hampir senada setiap harinya, saya tak pernah merasa bosan

Sebab aura hangat orang-orang terkasih selalu membuat saya hidup

Semangat dan harapan tak pernah luput dari doa mereka

Keyakinan menjalani hari yang lebih indah selalu terpancar di dalam rumah kecil itu

Pagi kecil itu seperti selalu memulai hidup baru setiap harinya

Itulah yang membuat nurani hidup sebab bekal sekotak luapan aura hangat, keyakinan, semangat, dan harapan sangat cukup untuk menantang kota

Dan film ini tak akan pernah membosankan sebab penonton akan menghayati esensinya