Entah bisikan dan berita apa yang berhembus
Ini mungkin tak dapat dimaafkan
Konsekuensi ini telah diri pahami sebelumnya
Memang kesalahan diri sepenuhnya
Hingga membuat Sang Bijak merasa gagal
Anda tak gagal, anda telah sangat hebat berlaga dalam perlombaan lari dengan sang waktu
Hanya saya yang memang tak lagi memiliki cita
Keyakinan itu telah runtuh perlahan-lahan sejak lama
Kata-kata hitam ini tak layak anda pahami sebab saya amat menyayangi nona bijak
Hitam ini tak rasional sama sekali, membuat penjara yang tak mudah dihancurkan
Namun nyatanya, saya selalu melihat kesedihan itu di malam hari saat semua terlelap
Bahkan hampir tak lagi meneteskan air mata saat melihat kesedihan itu
Sebab sudah kering kelopak mata ini
Bagaimana mungkin kamu jadikan tubuhmu sangkar bagi perasaan? Bukankah perasaanlah kandang dari jasad ini? Dalam diammu, aku mendengar banyak suara. Diammu berkata-kata.
Tangisanmu yang tak terlihat merobek ruang waktu dan menghampiriku dengan caranya sendiri. Mari, kususutkan air mata itu, kukecup keningmu halus, dan kutidurkan kepalamu di atas perutku yang hangat. Mari…
Kau dan aku menghembuskan napas. Tak lagi pengap. Tidak ada yang bergerak. Namun diam itu telah runtuh oleh diam.
(Diam-Dee)
Sungguh aku masih ingin menghampirimu, menyusutkan sedih itu, berlari dengan keyakinan yang tak semu. Menggapai bintang di cantik di angkasa bersama. Namun, diam ini telah runtuh oleh diam. Dan kereta waktu telah meninggalkan diri terlalu jauh, bersamamu dan mereka.
Maaf.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar