Selasa, 28 Juni 2011
Alibi Klasik
Alasan menjadi sekedar alibi
Terlalu banyak ini itu
Diam di tempat
Takut melangkah?
Pesimis memang tak dapat lepas,
Maka, pikir berujar
Di depan pasti kelabu
Lalu mengapa harus menunggu cerah?
Menjadi matahari pengusir kelabu saja
Ah, sudah beribu alibi
Alibi yang tak logis akhirnya
Apa yang harus ditakutkan?
Mengambil keputusan atau tidak bukankah sama saja?
Kepastian itu sama tidak pastinya dengan ketidakpastian
Jangan menjadikan ketidakpatian menjadi alibi
Ketidakpastian hanya bagian dari ketakutan
Ada keyakinan bukan?
Dan Tuhan adalah keyakinan itu sendiri
Perubahan tak akan menyapa jika tak mau berubah
Berlari,
Sekarang,
Atau tidak untuk selamanya
Banyak yang harus diubah
Rabu, 08 Juni 2011
Mitos Pergerakan Mahasiswa
Harian seorang demonstran seorang aktivis dari Universitas Indonesia puluhan tahun silam membentuk sepenggal bingkai pemahaman saya tentang kehidupan mahasiswa. Maka, sebelum mengantongi label mahasiswa, saya pikir mahasiswa adalah pejuang, salah satu elemen bangsa yang menduduki posisi penting dalam perjuangan bangsa. Inilah salah satu motivasi sok idelalis saya untuk nekat mencicipi pendidikan perguruan tinggi.
Ekspektasi itu terlampau batas ternyata. Kampus yang saya duduki hari ini tak bernafaskan atmosfer buku harian aktivis tahun 1966 tersebut. Katanya ini era globalisasi, mungkin era pergerakan mahasiswa menjadi basi. Yang ada pergerakan mengikuti dinamika globalisasi untuk menjadi buruh dengan semangat kapitalis. Lucunya saya manggut manggut setuju untuk berorientasi kuliah demi menjadi buruh, katanya orang tua demi masa depan “cerah”. Jangan-jangan buku harian seorang demonstran itu hanya fiksi? Namun, semakin banyak hari yang dilewati, saya semakin ragu dengan doktrinasi semangat kapitalis dalam hampir segala mata kuliah saya.
Bank memori menyimpan sepenggal ajaran tentang fungsi mahasiswa yang diumbar saat PK2 Maba. Sepertinya itu sekedar formalitas agenda acara plonco mahasiswa baru di awal tahun ajaran. Sebab fungsi itu hampir menjadi omong kosong yang patut ditertawai penerapannya. Nyatanya hari ini saya terobsesi mengantongi IPK tinggi dan mengikuti berbagai kepanitian yang menjanjikan sertifikat untuk melancarkan jalan menjadi buruh setelah lulus.
Jangan harapkan saya memahami esensi tri darma perguruan tinggi, fungsi mahasiswa, apalagi kabar pergerakan mahasiswa, sebab ketiganya bukan syarat melamar menjadi buruh di perusahaan multinasional milik asing. Maka, mungkin tak aneh jika media hari ini menyebarkan pola pikir pesimis bagi masa depan bangsa. Permasalahan pihak asing yang telah lama menguasai berbagai sektor negara, korupsi yang mengakar di bumi pertiwi, nasib pedih petani dan buruh yang tak kunjung usai, dan tumpukan masalah negara nampaknya menjadi topik basi yang dibahas pers hari ini bagi saya. Mana sempat memikirkan tumpukan permasalahan bangsa? Sebab sejuta alibi tentang tumpukan tugas kuliah demi IPK yang menjulang tak dapat dikalahkan oleh penerapan “jargon” fungsi mahasiswa. Mungkin tak lama lagi, pergerakan mahasiswa kelak menjadi mitos dan sejarah yang akan diceritakan segelintir alumni.
Mungkin saya terlalu konservatif, kuno, sok idealis, dan tak memahami hari ini semata. Sebab hari ini budaya membaca menjadi budaya kuno. Sebab saya tak lagi menjalani perkuliahan demi memahami, menikmati, dan mengamalkan ilmu apalagi untuk digunakan berbakti kepada masayarakat sekitar. Sebab saya adalah manusia tak berwawasan luas dan tak terbuka yang hanya bisa mengkritik. Sebab saya adalah manusia pemalas yang memiliki semangat “anget tahi ayam” untuk berjuang demi perubahan bangsa.
Mungkin ini hanya kekhawatiran yang berlebihan dari pikir dan nurani. Namun, mengapa sampai hari ini tak ada kabar baik yang dilaporkan awak media tentang bumi pertiwi?
Rabu, 01 Juni 2011
Bergandengan Tangan
Menyeimbangkan pikir dan nurani
Tahun ini sungguh menyediakan berbagai pilihan
Memilih maju, berhenti, atau diam?
Saya selalu berpikir saya pasti tegar
Kuat
Selesaikan semua masalah
Sendiri
Ini ternyata yang membuat kaki tak pernah melangkah maju
Saya buta dan tuli
Pikir saya selalu mendominasi mengalahkan nurani
Terlalu angkuh hingga tak pandai bersyukur
Karena lelah saya hanya ingin segera berlari
Bukan tuk segera menyelesaikan tapi sungguh lari dari rintangan dalam keadaan buta dan tuli
Ribuan detik yang mengorbankan beberapa hari untuk disisihkan dalam keadaan diam ini saya mencoba mendengarkan bisikan nurani
Saya tak ingin buta dan tuli lagi
Selamat pagi kawan,
Mungkin anda pikir saya adalah makhluk angkuh,
Saya membuang ribuan detik kemarin,
Dan tak menggandeng anda,
Anda benar,
Sosialisasi menjadi hal asing sejak dahulu bagi saya,
Dalam membela kemanusiaan ternyata saya tak memiliki sifat kemanusiaan,
Saya amat kaku tuk sekedar membuka apalagi mempertahankan pembicaraan dengan kawan,
Padahal dalam ribuan detik kemarin nurani saya terus berbisik hingga berteriak: dengarkan hati kawanmu!, jangan jalankan tahun ini sekedar rutinitas belaka, pengguguran tanggung jawab, hutang, dan kewajiban
Ternyata anda yang saya tunggu untuk melangkah,
Bersama,
Bergandengan tangan,
Inilah dosa saya pada kawanku,
Saya tak pernah percaya nurani dan kekuatan kawan,
Melangkah sendiri.
Perubahan tak berjalan secepat motogp pada saya, bahkan bisa kalah dari lari siput,
Saya mungkin tak segera menjadi makhluk supel pandai berkomunikasi dengan kawan,
Tapi saya hanya bisa berusaha dan berupaya ini tak sekedar janji gombal.
Ini tahun ingin selalu saya kenang seumur usia,
Jika nurani tak dapat beirama dengan pikir,
Kalian kawan Redaksi adalah bahan bakar nurani untuk merayu pikir.
Ingat, kita semua tersandung, tak seorang pun tidak pernah tersandung. Itulah sebabnya terasa aman jika melangkah sambil bergandengan tangan. (Emily Kimbrough)
Di depan, rintangan pasti membuat kita tersandung hingga jatuh,
Memar dan luka pasti terasa hingga kaki tal lagi tegap melangkah,
Kalau kata Mba Uchy dan Mba Ravi kurang lebih: mungkin kakimu cacat sebelah, begitupun dengan kawanmu, lalu mengapa kalian tak bergandengan sehingga saling memanggul satu sama lain untuk berjalan?
Saya selalu suka kalimat itu.
Ini bukan pengeksklusifan divisi,
Hai Nona AKeno, Nona MarElla, Bung Aris, Bang Adib, Neng Dian, Bang Cahyo, Bung Gama, dan Kobong,
Mungkin permintaan maaf terlambat tiba,
Saya memang tak terbiasa untuk terbuka pada orang lain, namun ternyata kalian bukan orang lain,
Melainkan kawan hati saya
Terimakasih untuk tulus dan mata kalian yangselalu membuat nurani semakin tegar.
Semoga kalian masih ingin bergandengan tangan bersama Indi.