Rabu, 01 Juni 2011

Bergandengan Tangan

Beribu detik telah dilewatkan untuk sekedar berpikir
Menyeimbangkan pikir dan nurani
Tahun ini sungguh menyediakan berbagai pilihan
Memilih maju, berhenti, atau diam?
Saya selalu berpikir saya pasti tegar
Kuat
Selesaikan semua masalah
Sendiri
Ini ternyata yang membuat kaki tak pernah melangkah maju
Saya buta dan tuli
Pikir saya selalu mendominasi mengalahkan nurani
Terlalu angkuh hingga tak pandai bersyukur
Karena lelah saya hanya ingin segera berlari
Bukan tuk segera menyelesaikan tapi sungguh lari dari rintangan dalam keadaan buta dan tuli
Ribuan detik yang mengorbankan beberapa hari untuk disisihkan dalam keadaan diam ini saya mencoba mendengarkan bisikan nurani
Saya tak ingin buta dan tuli lagi

Selamat pagi kawan,
Mungkin anda pikir saya adalah makhluk angkuh,
Saya membuang ribuan detik kemarin,
Dan tak menggandeng anda,
Anda benar,
Sosialisasi menjadi hal asing sejak dahulu bagi saya,
Dalam membela kemanusiaan ternyata saya tak memiliki sifat kemanusiaan,
Saya amat kaku tuk sekedar membuka apalagi mempertahankan pembicaraan dengan kawan,
Padahal dalam ribuan detik kemarin nurani saya terus berbisik hingga berteriak: dengarkan hati kawanmu!, jangan jalankan tahun ini sekedar rutinitas belaka, pengguguran tanggung jawab, hutang, dan kewajiban

Ternyata anda yang saya tunggu untuk melangkah,
Bersama,
Bergandengan tangan,

Inilah dosa saya pada kawanku,
Saya tak pernah percaya nurani dan kekuatan kawan,
Melangkah sendiri.

Perubahan tak berjalan secepat motogp pada saya, bahkan bisa kalah dari lari siput,
Saya mungkin tak segera menjadi makhluk supel pandai berkomunikasi dengan kawan,
Tapi saya hanya bisa berusaha dan berupaya ini tak sekedar janji gombal.

Ini tahun ingin selalu saya kenang seumur usia,
Jika nurani tak dapat beirama dengan pikir,
Kalian kawan Redaksi adalah bahan bakar nurani untuk merayu pikir.

Ingat, kita semua tersandung, tak seorang pun tidak pernah tersandung. Itulah sebabnya terasa aman jika melangkah sambil bergandengan tangan. (Emily Kimbrough)

Di depan, rintangan pasti membuat kita tersandung hingga jatuh,
Memar dan luka pasti terasa hingga kaki tal lagi tegap melangkah,
Kalau kata Mba Uchy dan Mba Ravi kurang lebih: mungkin kakimu cacat sebelah, begitupun dengan kawanmu, lalu mengapa kalian tak bergandengan sehingga saling memanggul satu sama lain untuk berjalan?
Saya selalu suka kalimat itu.

Ini bukan pengeksklusifan divisi,
Hai Nona AKeno, Nona MarElla, Bung Aris, Bang Adib, Neng Dian, Bang Cahyo, Bung Gama, dan Kobong,
Mungkin permintaan maaf terlambat tiba,
Saya memang tak terbiasa untuk terbuka pada orang lain, namun ternyata kalian bukan orang lain,
Melainkan kawan hati saya
Terimakasih untuk tulus dan mata kalian yangselalu membuat nurani semakin tegar.
Semoga kalian masih ingin bergandengan tangan bersama Indi.

Tidak ada komentar: