Harian seorang demonstran seorang aktivis dari Universitas Indonesia puluhan tahun silam membentuk sepenggal bingkai pemahaman saya tentang kehidupan mahasiswa. Maka, sebelum mengantongi label mahasiswa, saya pikir mahasiswa adalah pejuang, salah satu elemen bangsa yang menduduki posisi penting dalam perjuangan bangsa. Inilah salah satu motivasi sok idelalis saya untuk nekat mencicipi pendidikan perguruan tinggi.
Ekspektasi itu terlampau batas ternyata. Kampus yang saya duduki hari ini tak bernafaskan atmosfer buku harian aktivis tahun 1966 tersebut. Katanya ini era globalisasi, mungkin era pergerakan mahasiswa menjadi basi. Yang ada pergerakan mengikuti dinamika globalisasi untuk menjadi buruh dengan semangat kapitalis. Lucunya saya manggut manggut setuju untuk berorientasi kuliah demi menjadi buruh, katanya orang tua demi masa depan “cerah”. Jangan-jangan buku harian seorang demonstran itu hanya fiksi? Namun, semakin banyak hari yang dilewati, saya semakin ragu dengan doktrinasi semangat kapitalis dalam hampir segala mata kuliah saya.
Bank memori menyimpan sepenggal ajaran tentang fungsi mahasiswa yang diumbar saat PK2 Maba. Sepertinya itu sekedar formalitas agenda acara plonco mahasiswa baru di awal tahun ajaran. Sebab fungsi itu hampir menjadi omong kosong yang patut ditertawai penerapannya. Nyatanya hari ini saya terobsesi mengantongi IPK tinggi dan mengikuti berbagai kepanitian yang menjanjikan sertifikat untuk melancarkan jalan menjadi buruh setelah lulus.
Jangan harapkan saya memahami esensi tri darma perguruan tinggi, fungsi mahasiswa, apalagi kabar pergerakan mahasiswa, sebab ketiganya bukan syarat melamar menjadi buruh di perusahaan multinasional milik asing. Maka, mungkin tak aneh jika media hari ini menyebarkan pola pikir pesimis bagi masa depan bangsa. Permasalahan pihak asing yang telah lama menguasai berbagai sektor negara, korupsi yang mengakar di bumi pertiwi, nasib pedih petani dan buruh yang tak kunjung usai, dan tumpukan masalah negara nampaknya menjadi topik basi yang dibahas pers hari ini bagi saya. Mana sempat memikirkan tumpukan permasalahan bangsa? Sebab sejuta alibi tentang tumpukan tugas kuliah demi IPK yang menjulang tak dapat dikalahkan oleh penerapan “jargon” fungsi mahasiswa. Mungkin tak lama lagi, pergerakan mahasiswa kelak menjadi mitos dan sejarah yang akan diceritakan segelintir alumni.
Mungkin saya terlalu konservatif, kuno, sok idealis, dan tak memahami hari ini semata. Sebab hari ini budaya membaca menjadi budaya kuno. Sebab saya tak lagi menjalani perkuliahan demi memahami, menikmati, dan mengamalkan ilmu apalagi untuk digunakan berbakti kepada masayarakat sekitar. Sebab saya adalah manusia tak berwawasan luas dan tak terbuka yang hanya bisa mengkritik. Sebab saya adalah manusia pemalas yang memiliki semangat “anget tahi ayam” untuk berjuang demi perubahan bangsa.
Mungkin ini hanya kekhawatiran yang berlebihan dari pikir dan nurani. Namun, mengapa sampai hari ini tak ada kabar baik yang dilaporkan awak media tentang bumi pertiwi?
Tidak ada komentar:
Posting Komentar