Saya masih belum memahami konsep waktu tampaknya, terlalu membingungkan. Jika makna adalah yang paling hakiki, mengapa saya tak boleh berproses dalam ribuan detak detik? Ataukah saya yang tak mau mempelajari kegagalan dan trauma berlebihan? Namun mengapa terlalu banyak yang membingungkan? Beragam pertanyaan yang belum terjawab menggoda emosi negatif. Aliran yang membawa sampai persimpangan ini menyediakan banyak jendela dan pintu.
Nampaknya jendela di depan berkaca hitam hingga ide cinta mati masih amat sukar. Ternyata ikhlas itu tantangan jangka panjang. Kalau boleh untuk jangka menengah saya coba ide baru tuk ditanamkan. Fana mata ini akan disadari sebagai mimpi, sebab logika dari mana asal dan tujuan masih belum teringat. Petunjuk yang suci tetap menjadi panutan. Namun, kunci laci memori pertama belum ditemukan. Maka, pilihan ide ini menyediakan jendela yang menarik. Tafsir tafsir petunjuk suci pun meminta ketekunan dan konsistensi. Realitas merupakan mimpi dalam mimpi fana indra yang terbatas ini. Realitas adalah bertemu yang amat dirindu, sang arsitek sejati. Inilah tujuan yang diyakini diri atas petunjuk suci dan terpelihara.
Saraf cemas yang bercabang panjang selalu meminta hantaran keyakinan yang kokoh. Maka, kini logika harus bertanding dengan konsistensi. Saraf kecemasan hanya berusaha mendukung ide cinta mati buta itu tak layak. Sebab mereka selalu ditegur insting keseimbangan. Ini ide yang mendukung penuh perkembangan saraf bahagia, mereka membutukan impuls positif yang kuat. Sebab operasi pencangkokan tiruan sel bahagia belum ditemukan dunia medis. Maka, penanaman ide ini adalah pencangkokan yang mandiri. Semoga ini adalah cahaya sinar surya yang mengintip dari realitas sang arsitek, bukan hanya cahaya lampu Thomas Alfa Edison yang sewaktu waktu redup.
Rabu, 20 Juni 2012
Minggu, 10 Juni 2012
Kupu-Kupu dan Katak Malam
Tiba tiba insomnia menjadi kawan menyenangkan sebab sepanjang malam nostalgia kecil menghidupkan kupu-kupu dan katak dalam perut dan otak. Daun-daun kering dari pohon beringin, tangga warna warni, sepeda hitam bapak, seragam putih hijau dan biru, panas menyengat, bola-bola empuk warna warni tuk dilempar ke dalam keranjang tinggi, bangku meja kecil, lilin lengket yang harum, latihan menari, pulang bersama Kiki dan Bunga mengikuti aliran air, guru-guru menyanyi, wangi hujan dari kelas dan mushola, tanaman hijau depan ruang kepala sekolah, tahanan panjang dalam main benteng, loncat-loncat main karet, dagdigdug lomba puisi pramuka, bulan bintang pada malam kemah pramuka, guru guru yang amat ikhlas menuangkan segala ilmunya, latihan upacara di teriknya siang, tanpa ragu menjadi dirigen lagu nasional di depan seluruh peserta upacara, memimpin doa dan memberi salam setiap awal dan akhir pelajaran, senam di lapangan batu bata, naik sepeda kelas 6 SD, makan ketoprak langganan ramai ramai, belajar sepeda bersama Nana, main air hujan di lapangan bersama Aiq, main seharian di rumah Ulva atau Ndis, mengantarkan es teh mama di warung Ucok, selalu semangat naik sepeda orange pakai kerudung, menuntut Mas Galih menghapus corat coret lambang Slank di buku Tarikh Islam, menghapal bahasa arab, duet ngaji dengan Mba Eka, bergandeng tangan sambil menghirup wangi Mba Eka, mengejar belalang, mencoba permainan yang diajarkan Bobo, membaca Conan diam-diam sambil ngemil kudapan coklat, wudhu dan solat dekat ustad yang wajahnya selalu bersinar, solat subuh dan mendengarkan lantunan azan subuh bersama mama di mesjid.
Terlalu banyak memori usang terputar. Tayangan masa lampau menghidupkan lagi banyak katak dan kupu-kupu dalam otak dan perut. Saking banyaknya, beberapa helai tisu turut terharu.
Hari ini pola detik waktu tak dapat dianalisis, maka malam dan dini hari selalu menawarkan variasi paradigma. Ternyata beberapa waktu saya lupa untuk hidup. Saya lupa makna kematian. Saya lupa jatuh cinta dan tergila gila dengan ilmu. Saya lupa senyum guru-guru.Saya lupa cara bersyukur setiap detiknya.
Hampir saya tak mengenali rupa Tuan Wonka. Dengan topi tinggi dan cerianya, suaranya lembut mengajak bermain. Padahal saya yang sengaja mengajak Tuan terlelap. Namun melodi ajaib membangunkan Tuan. Mungkin sudah lama Tuan termangu memandang ruang kelabu. Dan Tuan merayu sambil bermain piano nada gembira dengan lirik skeptis yang tak mungkin terlupakan.
Pada hari menuju dunia penuh rasionalitas, saya tak dapat bersenda gurau dengan Tuan leluasa. Beberapa waktu kita hanya memandang dan menyontek senyum manis Tuan. Mungkin waktu luang paling bebas adalah saat kita berdendang melodi riang.
Life in Technicolor, Paradise, Clocks, Yellow, Every Teardrop is A Waterfall, Viva La Vida, dan suara nyaring MIKA terdengar romantis dan gembira. Menambah dosis glukosa kepada para katak dan kupu-kupu.
Rabu, 06 Juni 2012
By The Time
Don't wake up, won't wake up, can't wake up,
No, don't wake me up
Don't wake up, won't wake up, can't wake up,
No, don't wake me up
It's the early morn
Lights flick on
Sleepy eyes peek through the blinds at something wrong
Motionless remains the mess
Shame, such a beautiful, beautiful young life
By the time I'm dreaming
And you've crept out on me sleeping
I'm busy in the blissful unaware
By the time I'm dreaming
And you've crept out on me sleeping
Tell me how am I supposed to care
A trail of clothes two years old
Why did you have to go and leave all this stuff behind
Wasn't I allowed three strikes and out
No, but you said I could, said I could just one night
Don't wake up, won't wake up, can't wake up,
No, don't wake me up
Don't wake up, won't wake up, can't wake up
MIKA
One Foot Boy
What's a matter with going places?Take that gross look off your facesEmpty loving makes me seasickWhat you're here for, I don't need it
I'll say nothing on your microphoneTill you swear to take me homeThere's a one foot boy, eleven stoneHe's sitting on my shoulder
I'm too scared to look awayHe comes here almost everydayAnd everyday I push him offAnd tell him, boy, we're over
My, oh my, I think my mind is goneI'm left here wondering was I crazy all along?What do I do? Nothing left but prayGonna shoot somebodyHelp me drive this craziness awayI'm happy on my own
One foot boy, one foot boy(I'm happy on my own)One foot boy, one foot boy(I'm happy on my own)
Say you like me not with changesShut up and forget it these are my facesAll these colors that surround meAll these places only drown me
MIKA
I'll say nothing on your microphoneTill you swear to take me homeThere's a one foot boy, eleven stoneHe's sitting on my shoulder
I'm too scared to look awayHe comes here almost everydayAnd everyday I push him offAnd tell him, boy, we're over
My, oh my, I think my mind is goneI'm left here wondering was I crazy all along?What do I do? Nothing left but prayGonna shoot somebodyHelp me drive this craziness awayI'm happy on my own
One foot boy, one foot boy(I'm happy on my own)One foot boy, one foot boy(I'm happy on my own)
Say you like me not with changesShut up and forget it these are my facesAll these colors that surround meAll these places only drown me
MIKA
Langganan:
Postingan (Atom)