Minggu, 10 Juni 2012

Kupu-Kupu dan Katak Malam


Tiba tiba insomnia menjadi kawan menyenangkan sebab sepanjang malam nostalgia kecil menghidupkan kupu-kupu dan katak dalam perut dan otak. Daun-daun kering dari pohon beringin, tangga warna warni, sepeda hitam bapak, seragam putih hijau dan biru, panas menyengat, bola-bola empuk warna warni tuk dilempar ke dalam keranjang tinggi, bangku meja kecil, lilin lengket yang harum, latihan menari,  pulang bersama Kiki dan Bunga mengikuti aliran air, guru-guru menyanyi, wangi hujan dari kelas dan mushola, tanaman hijau depan ruang kepala sekolah, tahanan panjang dalam main benteng, loncat-loncat main karet, dagdigdug lomba puisi pramuka, bulan bintang pada malam kemah pramuka, guru guru yang amat ikhlas menuangkan segala ilmunya, latihan upacara di teriknya siang, tanpa ragu menjadi dirigen lagu nasional di depan seluruh peserta upacara, memimpin doa dan memberi salam setiap awal dan akhir pelajaran, senam di lapangan batu bata, naik sepeda kelas 6 SD, makan ketoprak langganan ramai ramai, belajar sepeda bersama Nana, main air hujan di lapangan bersama Aiq, main seharian di rumah Ulva atau Ndis, mengantarkan es teh mama di warung Ucok, selalu semangat naik sepeda orange pakai kerudung, menuntut Mas Galih menghapus corat coret lambang Slank di buku Tarikh Islam, menghapal bahasa arab, duet ngaji dengan Mba Eka, bergandeng tangan sambil menghirup wangi Mba Eka, mengejar belalang, mencoba permainan yang diajarkan Bobo, membaca Conan diam-diam sambil ngemil kudapan coklat, wudhu dan solat dekat ustad yang wajahnya selalu bersinar, solat subuh dan mendengarkan lantunan azan subuh bersama mama di mesjid.

Terlalu banyak memori usang terputar. Tayangan masa lampau menghidupkan lagi banyak katak dan kupu-kupu dalam otak dan perut. Saking banyaknya, beberapa helai tisu turut terharu.

Hari ini pola detik waktu tak dapat dianalisis, maka malam dan dini hari selalu menawarkan variasi paradigma. Ternyata beberapa waktu saya lupa untuk hidup. Saya lupa makna kematian. Saya lupa jatuh cinta dan tergila gila dengan ilmu. Saya lupa senyum guru-guru.Saya lupa cara bersyukur setiap detiknya.

Hampir saya tak mengenali rupa Tuan Wonka. Dengan topi tinggi dan cerianya, suaranya lembut mengajak bermain. Padahal saya yang sengaja mengajak Tuan terlelap. Namun melodi ajaib membangunkan Tuan. Mungkin sudah lama Tuan termangu memandang ruang kelabu. Dan Tuan merayu sambil bermain piano nada gembira dengan lirik skeptis yang tak mungkin terlupakan.

Pada hari menuju dunia penuh rasionalitas, saya tak dapat bersenda gurau dengan Tuan leluasa. Beberapa waktu kita hanya memandang dan menyontek senyum manis Tuan. Mungkin waktu luang paling bebas adalah saat kita berdendang melodi riang.

Life in Technicolor, Paradise, Clocks, Yellow, Every Teardrop is A Waterfall, Viva La Vida, dan suara nyaring MIKA terdengar romantis dan gembira. Menambah dosis glukosa kepada para katak dan kupu-kupu.

Tidak ada komentar: