Saya masih belum memahami konsep waktu tampaknya, terlalu membingungkan. Jika makna adalah yang paling hakiki, mengapa saya tak boleh berproses dalam ribuan detak detik? Ataukah saya yang tak mau mempelajari kegagalan dan trauma berlebihan? Namun mengapa terlalu banyak yang membingungkan? Beragam pertanyaan yang belum terjawab menggoda emosi negatif. Aliran yang membawa sampai persimpangan ini menyediakan banyak jendela dan pintu.
Nampaknya jendela di depan berkaca hitam hingga ide cinta mati masih amat sukar. Ternyata ikhlas itu tantangan jangka panjang. Kalau boleh untuk jangka menengah saya coba ide baru tuk ditanamkan. Fana mata ini akan disadari sebagai mimpi, sebab logika dari mana asal dan tujuan masih belum teringat. Petunjuk yang suci tetap menjadi panutan. Namun, kunci laci memori pertama belum ditemukan. Maka, pilihan ide ini menyediakan jendela yang menarik. Tafsir tafsir petunjuk suci pun meminta ketekunan dan konsistensi. Realitas merupakan mimpi dalam mimpi fana indra yang terbatas ini. Realitas adalah bertemu yang amat dirindu, sang arsitek sejati. Inilah tujuan yang diyakini diri atas petunjuk suci dan terpelihara.
Saraf cemas yang bercabang panjang selalu meminta hantaran keyakinan yang kokoh. Maka, kini logika harus bertanding dengan konsistensi. Saraf kecemasan hanya berusaha mendukung ide cinta mati buta itu tak layak. Sebab mereka selalu ditegur insting keseimbangan. Ini ide yang mendukung penuh perkembangan saraf bahagia, mereka membutukan impuls positif yang kuat. Sebab operasi pencangkokan tiruan sel bahagia belum ditemukan dunia medis. Maka, penanaman ide ini adalah pencangkokan yang mandiri. Semoga ini adalah cahaya sinar surya yang mengintip dari realitas sang arsitek, bukan hanya cahaya lampu Thomas Alfa Edison yang sewaktu waktu redup.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar