Minggu, 15 April 2012

Biru Tenang

tinggi dan hebat selalu membuat terpana
ambisi dan materi menjadi godaan tuk mengundang kekaguman
saya pikir bahagia adalah menaiki tangga dan melaju pesat menuju mega angkasa
tak disangka kesederhanaan Tuan mengusik relung
kebaikan hati yang menawarkan esensi mengetuk pintu hati
etiket yang tak sekedar basa basi mengusik kaku kikuk
nurani meminta kejujuran, logika mencoba kompromi,
apakah ini berarti? sebaiknya justifikasi harus berhati hati
perdebatan rasa tak akan saya mulai
mengalir saja mungkin lebih tepat


sebab arti belum dipahami
maka diri hanya menikmati
menghayati rendah diri memaknai konsistensi dari bayang
biru tenang dilemparkan bayang


kau membelakangiku, kunikmati bayangmu,
itulah saja cara yang bisa,
untukku menghayatimu,
sesaat dunia jadi tiada, 
hanya diriku yang mengamatimu dan dirimu yang jauh di sana,
ku takkan bisa lindungi hati,
jangan pernah kau tatapkan wajahmu, 
bantulah aku semampumu
(Hanya Isyarat-Dewi Lestari)

Tidak ada komentar: