Minggu, 18 November 2012

"Penyidik Muda": Pejuang Muda Pemberantas Korupsi (Andai Aku Menjadi Ketua KPK)


  Korupsi merupakan salah satu penyakit yang masih terus menggerogoti kesehatan bangsa. Tak kalah seperti narkotika, korupsi menjadi candu bagi makhluk.  Awalnya candu ini menggiurkan satu, dua, hingga banyak orang karena godaan kelezatan pemuas dahaga nafsu semata. Semakin banyak dinikmati, korupsi semakin memuaskan, oleh karena itu candu ini selalu dilakukan secara berjamaah. Demi memuaskan hasrat keserakahan, seperti para pecandu, mereka rela mengorbankan masa depan diri, keluarga, bahkan bangsa tuk mendapatkan candu. Tak peduli akan derita yang dikorbankan, para penggila candu terus memburu candu dan buta segala. Mereka memang telah buta dan tuli, sebab nurani baik yang pasti menolak candu ini pasti tak dihiraukan para pecandu pada awalnya. Maka, jangan heran jika logika tentang kehancuran bangsa akibat candu ini didiskusikan dengan mereka, tak akan mempan. Sebab nurani mereka telah tertutup kelam, maka memburu candu hingga triliyunan rupiah lebih logis bagi para pecandu.
  Nurani kelam para pecandu nampak semakin menggila hingga mereka bertransformasi menjadi penjahat yang membahayakan. Bahkan kejahatan pecandu amat rapih, tak terlihat, dan yang paling membahayakan adalah bermutasi menjadi virus menular! Seperti ibu bermata kancing dalam film "Caroline", para pecandu terlihat sebagai orang-orang yang baik karena mereka adalah para pelayan rakyat. Seharusnya.
  Dalam berbagai kisah perfilman superhero, saat kejahatan merajarela, para  penegak hukum disusupi, hingga rakyat semakin menderita, semesta akan melahirkan penyelamat. Mungkin tak berlebihan jika Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) menjadi salah satu tombak harapan rakyat Indonesia dalam memberantas korupsi. Kekuatan super KPK hari ini adalah keberanian, tak mudah putus asa, pantang menyerah, dan tentu rela berkorban demi bangsa. Menjadi anggota KPK merupakan salah satu tantangan anak bangsa tuk melawan kejahatan sistematis yang mengakar ini. Bukan rahasia tak sedikit yang ingin "menjatuhkan" KPK. Tentu kita tak lupa berbagai kasus penyidik KPK belakangan ini dan sederet kasus "unik" para ketua KPK. Dapat dibayangkan bagaimana resiko yang membayangi para pejuang KPK. Tak aneh, bapak ketua KPK hari ini rela mewakafkan nyawanya di jalan Tuhannya dalam mengemban tugasnya.
  Bukan bermaksud mengecilkan nyali tuk mengandaikan diri jika menjadi ketua KPK, awalan tentang resiko tinggi bahkan "meminta" nyawa diharapkan tak menjadi halangan tentang signifikansi tujuan utama para pejuang KPK. Menjadi seorang ketua KPK bukan hanya tentang mendapatkan kehormatan, jabatan, dan terkenal. Ini adalah salah satu perjuangan anak bangsa yang ditopang harapan rakyat di penjuru Indonesia. Menjadi pahlawan, superhero, atau apapun istilahnya sebaiknya tidak menjadi tujuan bagi para pejuang KPK. Sebab para pahlawan tak pernah menyiratkan pemikiran seperti  itu sejak awal berjuang. Seperti tokoh Mulan, niat awal rela berkorban, konsistensi berjuang, pantang menyerah, dan keberanian adalah nilai yang sesungguhnya.
  Andai menjadi ketua KPK, saya tertarik menciptakan para penyidik dari berbagai lapisan masyarakat. Melihat semakin kronisnya penyakit ini, maka gerakan masal patut dicoba. Para relawan masyarakat diundang tuk menjadi pejuang bangsa yang dimulai dari lingkungannya sendiri. Terutama para pejuang kecil  seperti para pelajar sekolah, mulai dari sekolah dasar hingga universitas. Tak hanya memberikan sekedar mata pelajaran tentang korupsi dan pemberantasannya yang mungkin hanya seminggu sekali dalam penerapannya, menjadi "penyidik muda" tentu  menjadi pembelajaran dan praktik yang lebih efektif.  Didukung para guru-guru yang sebenarnya adalah para pencipta pejuang bangsa, sesungguhnya jika pelajar muda ini dididik sejak awal tuk memberantas korupsi, mereka akan memahami mengapa dan bagaimana mereka memberantas penyakit bangsa yang sepertinya masih akan terus membayangi hingga hitungan tahun yang tak  sedikit. Para "pejuang muda" akan memahami dan belajar tentang nilai-nilai para pahlawannya terdahulu yang sesungguhnya sudah sering diajarkan dalam mata pelajaran seperti PPKN pada praktek nyata. Misal bagi para "pejuang muda" tingkat SD, mereka dapat menciptakan gerakan tidak mencontek dalam ujian atau kegiatan lainnya. Tak hanya menciptakan sistem "yang keras" dalam melarang siswa mencontek dalam ujian, jika para pelajar dididik dan memahami bahwa mencontek merupakan perbuatan yang berakibat buruk, para "pejuang muda" juga dapat mempengaruhi teman-teman mereka untuk berlatih tak melakukannya. Begitupun dalam menciptakan para "pejuang muda" pada tingkat universitas. Tentu menjadi wacana baru dan menarik bagi para mahasiswa tuk menjadi "penyidik muda". Tak hanya mengadakan sosialisasi dan seminar tentang pemberantasan korupsi, harus ada gerakan sistematis tuk memberantas korupsi, yang bukan lagi rahasia terdapat banyak "tikus" di gedung-gedung kampus yang menjulang. Maka, dengan membekali para pelajar tuk menjadi "penyidik muda" sejak dini dapat saja menjadi salah satu solusi masalah minimnya kuantitas penyidik KPK.
  Mengapa para penyidik muda akan lebih baik dimulai dari para pelajar? Sebab kualitas para penyidik tak hanya tentang kemampuannya menginvestigasi dan kecerdasan mereka tentang sistem, hukum, keakuratan matematis, dan lainnya. Ada satu hal dasar untuk mencegah penyakit candu yang menular ini, yaitu moral dan etika. Segala peperangan pemberantasan korupsi hari ini akan menjadi sia-sia saat generasi muda selanjutya tetap memiliki moral yang bobrok sehingga akan mudah tergoda candu.   
  Niat dan kemauan yang keras tuk memberantas korupsi, konsistensi tuk terus belajar dan berjuang, dan rela berkorban adalah tombak dan parang para pejuang hari ini tuk menyelamatkan bangsa. Tentu berbagai tantangan akan menanti, kebaikan akan selalu ditantang keburukan, begitulah semesta bekerja

Tidak ada komentar: