Korupsi merupakan salah satu
penyakit yang masih terus menggerogoti kesehatan bangsa. Tak kalah seperti
narkotika, korupsi menjadi candu bagi makhluk.
Awalnya candu ini menggiurkan satu, dua, hingga banyak orang karena
godaan kelezatan pemuas dahaga nafsu semata. Semakin banyak dinikmati, korupsi
semakin memuaskan, oleh karena itu candu ini selalu dilakukan secara berjamaah.
Demi memuaskan hasrat keserakahan, seperti para pecandu, mereka rela
mengorbankan masa depan diri, keluarga, bahkan bangsa tuk mendapatkan candu.
Tak peduli akan derita yang dikorbankan, para penggila candu terus memburu
candu dan buta segala. Mereka memang telah buta dan tuli, sebab nurani baik yang
pasti menolak candu ini pasti tak dihiraukan para pecandu pada awalnya. Maka,
jangan heran jika logika tentang kehancuran bangsa akibat candu ini
didiskusikan dengan mereka, tak akan mempan. Sebab nurani mereka telah tertutup
kelam, maka memburu candu hingga triliyunan rupiah lebih logis bagi para
pecandu.
Nurani kelam para pecandu nampak
semakin menggila hingga mereka bertransformasi menjadi penjahat yang
membahayakan. Bahkan kejahatan pecandu amat rapih, tak terlihat, dan yang
paling membahayakan adalah bermutasi menjadi virus menular! Seperti ibu bermata
kancing dalam film "Caroline", para pecandu terlihat sebagai
orang-orang yang baik karena mereka adalah para pelayan rakyat. Seharusnya.
Dalam berbagai kisah perfilman superhero, saat kejahatan merajarela,
para penegak hukum disusupi, hingga
rakyat semakin menderita, semesta akan melahirkan penyelamat. Mungkin tak
berlebihan jika Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) menjadi salah satu tombak
harapan rakyat Indonesia dalam memberantas korupsi. Kekuatan super KPK hari ini
adalah keberanian, tak mudah putus asa, pantang menyerah, dan tentu rela
berkorban demi bangsa. Menjadi anggota KPK merupakan salah satu tantangan anak
bangsa tuk melawan kejahatan sistematis yang mengakar ini. Bukan rahasia tak
sedikit yang ingin "menjatuhkan" KPK. Tentu kita tak lupa berbagai
kasus penyidik KPK belakangan ini dan sederet kasus "unik" para ketua
KPK. Dapat dibayangkan bagaimana resiko yang membayangi para pejuang KPK. Tak
aneh, bapak ketua KPK hari ini rela mewakafkan nyawanya di jalan Tuhannya dalam
mengemban tugasnya.
Bukan bermaksud mengecilkan nyali
tuk mengandaikan diri jika menjadi ketua KPK, awalan tentang resiko tinggi
bahkan "meminta" nyawa diharapkan tak menjadi halangan tentang
signifikansi tujuan utama para pejuang KPK. Menjadi seorang ketua KPK bukan
hanya tentang mendapatkan kehormatan, jabatan, dan terkenal. Ini adalah salah
satu perjuangan anak bangsa yang ditopang harapan rakyat di penjuru Indonesia.
Menjadi pahlawan, superhero, atau
apapun istilahnya sebaiknya tidak menjadi tujuan bagi para pejuang KPK. Sebab
para pahlawan tak pernah menyiratkan pemikiran seperti itu sejak awal berjuang. Seperti tokoh Mulan,
niat awal rela berkorban, konsistensi berjuang, pantang menyerah, dan
keberanian adalah nilai yang sesungguhnya.
Andai menjadi ketua KPK, saya
tertarik menciptakan para penyidik dari berbagai lapisan masyarakat. Melihat
semakin kronisnya penyakit ini, maka gerakan masal patut dicoba. Para relawan
masyarakat diundang tuk menjadi pejuang bangsa yang dimulai dari lingkungannya
sendiri. Terutama para pejuang kecil
seperti para pelajar sekolah, mulai dari sekolah dasar hingga
universitas. Tak hanya memberikan sekedar mata pelajaran tentang korupsi dan
pemberantasannya yang mungkin hanya seminggu sekali dalam penerapannya, menjadi
"penyidik muda" tentu menjadi
pembelajaran dan praktik yang lebih efektif.
Didukung para guru-guru yang sebenarnya adalah para pencipta pejuang
bangsa, sesungguhnya jika pelajar muda ini dididik sejak awal tuk memberantas
korupsi, mereka akan memahami mengapa dan bagaimana mereka memberantas penyakit
bangsa yang sepertinya masih akan terus membayangi hingga hitungan tahun yang
tak sedikit. Para "pejuang
muda" akan memahami dan belajar tentang nilai-nilai para pahlawannya
terdahulu yang sesungguhnya sudah sering diajarkan dalam mata pelajaran seperti
PPKN pada praktek nyata. Misal bagi para "pejuang muda" tingkat SD,
mereka dapat menciptakan gerakan tidak mencontek dalam ujian atau kegiatan
lainnya. Tak hanya menciptakan sistem "yang keras" dalam melarang
siswa mencontek dalam ujian, jika para pelajar dididik dan memahami bahwa
mencontek merupakan perbuatan yang berakibat buruk, para "pejuang
muda" juga dapat mempengaruhi teman-teman mereka untuk berlatih tak
melakukannya. Begitupun dalam menciptakan para "pejuang muda" pada
tingkat universitas. Tentu menjadi wacana baru dan menarik bagi para mahasiswa
tuk menjadi "penyidik muda". Tak hanya mengadakan sosialisasi dan
seminar tentang pemberantasan korupsi, harus ada gerakan sistematis tuk
memberantas korupsi, yang bukan lagi rahasia terdapat banyak "tikus"
di gedung-gedung kampus yang menjulang. Maka, dengan membekali para pelajar tuk
menjadi "penyidik muda" sejak dini dapat saja menjadi salah satu
solusi masalah minimnya kuantitas penyidik KPK.
Mengapa para penyidik muda akan
lebih baik dimulai dari para pelajar? Sebab kualitas para penyidik tak hanya
tentang kemampuannya menginvestigasi dan kecerdasan mereka tentang sistem, hukum,
keakuratan matematis, dan lainnya. Ada satu hal dasar untuk mencegah penyakit
candu yang menular ini, yaitu moral dan etika. Segala peperangan pemberantasan
korupsi hari ini akan menjadi sia-sia saat generasi muda selanjutya tetap
memiliki moral yang bobrok sehingga akan mudah tergoda candu.
Niat dan kemauan yang keras tuk memberantas
korupsi, konsistensi tuk terus belajar dan berjuang, dan rela berkorban adalah
tombak dan parang para pejuang hari ini tuk menyelamatkan bangsa. Tentu
berbagai tantangan akan menanti, kebaikan akan selalu ditantang keburukan,
begitulah semesta bekerja
Tidak ada komentar:
Posting Komentar